5 Tradisi dan Budaya Unik di Lereng Gunung Slamet yang Sarat Makna
Gunung Slamet tak hanya dikenal sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah, tetapi juga sebagai pusat tradisi budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Ringkasan Berita:
- Gunung Slamet tidak hanya dikenal sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah, tetapi juga sebagai pusat tradisi budaya dan kepercayaan masyarakat sekitar.
- Berbagai ritual seperti Ruwat Bumi, Pengambilan Air Suci, Ratiban, dan Gandulan menjadi wujud syukur, kebersamaan, serta upaya menjaga alam.
- Adanya tradisi-tradisi dan kepercayaan masyarakat ini membentuk sikap hormat, etika hidup, dan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
TRIBUNJOGJA.COM - Gunung Slamet tidak hanya dikenal sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah, tetapi juga sebagai pusat tradisi budaya dan kepercayaan yang hidup di tengah masyarakatnya.
Berbagai ritual turun-temurun tumbuh sebagai wujud syukur, doa keselamatan, serta penghormatan terhadap alam.
Mulai dari Ruwat Bumi hingga kepercayaan pada penjaga gunung, setiap tradisi menyimpan nilai budaya yang mendalam.
Praktik-praktik ini menjadi cerminan hubungan harmonis antara manusia, lingkungan, dan spiritualitas.
Melalui tradisi tersebut, masyarakat menjaga warisan leluhur sekaligus merawat keseimbangan alam sekitar Gunung Slamet.
• Hilang Jejak Pendaki Gunung Slamet Jadi Misteri, Keluarga: Pamitnya ke Sumbing
Berikut tradisi budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakat di sekitar Gunung Slamet:
1. Ruwat Bumi
Ruwat Bumi merupakan tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di sekitar Gunung Slamet.
Kata ruwat berarti menjaga atau melestarikan, sedangkan bumi berarti tempat hidup manusia.
Tradisi ini dimaknai sebagai upaya menjaga keseimbangan alam sekaligus ungkapan syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Tujuan utama Ruwat Bumi adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk merawat lingkungan serta mempererat hubungan sosial antarwarga.
Melalui tradisi ini, manusia diingatkan bahwa alam bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga amanah yang harus dijaga bersama.
Secara historis, Ruwat Bumi mulai dikenal sejak tahun 1966 di Desa Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Tradisi ini bermula ketika Raden Aryo mengajak masyarakat memperdalam nilai keagamaan di tengah situasi wabah.
Kala itu, Kyai Eyang Sutajaya memimpin doa bersama sebagai permohonan keselamatan, yang kemudian berkembang menjadi tradisi tahunan masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/puncak-gunung-slamet_2411.jpg)