Pelajar SMA di Bantul Ikuti Literasi Digital yang Digelar Kemenkominfo RI dan Disdikpora Bantul

Kegiatan ini digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
Dok. Istimewa
Kegiatan literasi digital yang digelar secara daring lewat zoom dari SMAN 1 Kasihan Bantul bertema Etika Pelajar di Dunia Digital yang Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul, Rabu (15/5/2024) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Para pelajar SMA se-Kabupaten Bantul mengikuti kegiatan literasi digital nonton bareng, Rabu (15/5/2024).

Kegiatan ini digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul.

Literasi digital ini digelar secara daring melalui zoom dari SMAN 1 Kasihan Bantul dengan mengambil tema "Etika Pelajar di Dunia Digital."

Kegiatan nobar tersebut digelar guna mengedukasi para siswa-siswi SMA se-Kabupaten Bantul, agar mengerti akan etika berkomunikasi di media sosial.

Hal itu juga bertujuan agar para pelajar terhindar dari sejumlah risiko di antaranya kekerasan di dunia medsos, cyberbullying, online sexual harassment, serta kemungkinan pelanggaran keamanan data yang berpengaruh pada privasi.

Kemenkominfo RI mencatat, terdapat 12.547 konten hoaks yang beredar di website dan platform digital sepanjang Agustus 2018 sampai Desember 2023.

Baca juga: Polisi Terapkan Wajib Lapor untuk Pelajar yang Terjaring Saat Konvoi Kelulusan di Yogyakarta

Konten tersebut diidentifikasi, diverifikasi dan divalidasi oleh Tim AIS Ditjen Aplikasi Informatika.

Menurut hasil penelitian Center For Digital Society (CfDS) per Agustus 2021 bertajuk Teenager-Related Cyberbullying Case in Indonesia yang dilakukan kepada siswa SMA usia 13-18 dari 34 Provinsi di Indonesia.

Hasil penelitian terkait cyberbullying tersebut menyebutkan sebanyak 1.895 siswa (45,35 persen) mengaku pernah menjadi korban, sementara 1.182 siswa (38,41 % ) lainnya menjadi pelaku.

Rata-rata para siswa tersebut mudah terhasut oleh konten-konten negatif, yang sangat kurangnya para siswa dalam mendapatkan edukasi tentang etika bermedia sosial.

Krisna Aditya dari Social Media Strategist Tular Nalar mengatakan, edukasi digital saat ini harus mengerti tentang Prinsip THINK (True, Helpful, Illegal, Necessary and Kind) dalam Etika Digital.

Prinsip tersebut, menurutnya, merupakan salah satu pegangan penting bagi para pelajar untuk lebih berhati-hati, dan memiliki etika saat menggunakan media sosial.

Baca juga: Tingkatkan Literasi Digital ke Lebih dari 1.000 Siswa dan Guru di Indonesi Lewat Internet BAIK

"Para siswa harus di bekali dengan edukasi yang bisa memilah dan memahi setiap konten-konten yang terkirim melalui media sosial. Yang menjadi kekawatiran saat ini adalah, akun di medsos yang dinilai provokatif. Apabila mendapatkan konten dari media sosial, yang dinilai mencurigakan dan dianggap sebagai provokasi, kita harus mencari sumber berita yang jelas, supaya kita tidak dirugikan dengan adanya konten negatif tersebut," papar Krisna.

Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan generasi muda, khususnya peserta pendidikan tentang etika pelajar di dunia digital.

Hal tersebut guna meningkatkan pengetahuan para generasi muda dalam aktivitas di ruang digital agar dapat lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi secara beretika.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved