Ramadan 2024

Masjid Gedhe Kauman, Syiar Agama Islam yang Bercorak Budaya Jawa

Masjid Gedhe Kauman didirikan atas inisiasi Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu keraton.

Penulis: Santo Ari | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA/Ardhike Indah
Salat Idulfitri 1444 H, Jumat (21/4/2023) di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Terlihat, saf salat meluber hingga ke jalan raya 

Samping kiri belakang mihrab terdapat maksura yang terbuat dari kayu jati bujur sangkar dengan lantai marmer yang lebih tinggi serta dilengkapi dengan tombak.

Maksura difungsikan sebagai tempat pengamanan raja apabila Sri Sultan berkenan sholat berjamaah di Masjid Gedhe Kauman.

Tidak jauh dari mihrab terdapat Mimbar yang berbentuk singgasana berundak sebagai tempat bagi khotib dalam menyampaikan khotbah Jumat.

Mimbar dibuat dari kayu jati berhiaskan ukiran indah berbentuk ornament stilir tumbuh-tumbuhan dan bunga di prada emas.

Selain ruang inti masjid induk juga dilengkapi dengan berbagai ruangan yang memiliki fungsi berbeda, seperti pawestren (tempat khusus bagi jamaah putri), yakihun (ruang khusus peristirahatan para ulama, khotib, dan merbot), blumbang (kolam), dan tentu saja serambi masjid.

Baca juga: Sejarah Masjid Pathok Negoro Dongkelan, Tempat Ibadah sekaligus Benteng Pertahanan

Bagian lain dari kompleks Masjid Gedhe pada masa sekarang adalah KUA, kantor Takmir, Pagongan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan gamelan Sekaten, Pajagan yang dulunya digunakan sebagai tempat prajurit kraton berjaga dan terletak memanjang di kanan kiri gapura, serta regol atau gapura yang berbentuk Semar Tinandu dan merupakan pintu gerbang utama kompleks masjid.

Menu Spesial saat Ramadan

Suasana buka puasa bersama, atau sering disebut sebagai takjilan, di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Kamis (14/3/2024).
Suasana buka puasa bersama, atau sering disebut sebagai takjilan, di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Kamis (14/3/2024). (Tribunjogja.com/Azka Ramadhan)

Selama bulan Ramadan, Masjid Gedhe Kauman tak pernah absen menyajikan menu berbuka puasa atau takjil setiap sore.

Ciri khas yang terkenal di masjid ini adalah menyajikan ribuan porsi gulai kambing tiap hari Kamis.

Tradisi berbuka puasa dengan menu gulai kambing ini sudah berjalan sejak puluhan tahun silam, atau kisaran 1950an.


Mulanya, tradisi tersebut dilangsungkan sebagai bagian dari dakwah agama Islam. Pada masa-masa itu pihak takmir mengalami kesulitan untuk mengajak masyarakat singgah ke masjid, dan gulai kambing terbukti dapat meningkatkan jamaah untuk datang.

Kebiasaan itu pun menjadi tradisi dan porsi yang harus disediakan Takmir Masjid Gedhe Kauman turut meningkat pula setiap tahunnya, karena jumlah jemaah yang semakin banyak.

Saat ini, setiap Kamis Masjid Gedhe Kauman menyiapkan 1.500 porsi gulai kambing yang rata-rata sudah ludes sebelum Magrib tiba.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved