Ramadan 2024

Masjid Gedhe Kauman, Syiar Agama Islam yang Bercorak Budaya Jawa

Masjid Gedhe Kauman didirikan atas inisiasi Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu keraton.

Penulis: Santo Ari | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA/Ardhike Indah
Salat Idulfitri 1444 H, Jumat (21/4/2023) di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Terlihat, saf salat meluber hingga ke jalan raya 

TRIBUNJOGJA.COM - Yogyakarta memiliki banyak bangunan masjid dengan nilai sejarah yang kental. Salah satu masjid bersejarah yang ada di Jogja adalah Masjid Gedhe Kauman yang berumur lebih dari 200 tahun.

Sejarah keberadaan Masjid Gedhe Kauman tidak bisa dilepaskan dari Kraton Kasultanan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam dalam perundingan Giyanti pada tahun 1755.

Masjid Gedhe Kauman berdiri 18 tahun kemudian setelah perjanjian Giyanti.

Dikutip dari laman Kratonjogja.id, Masjid Gedhe Kauman dibangun pada hari Ahad Wage 29 Mei 1773 Masehi, atau 6 Rabi'ul Akhir 1187 Hijriah/Alip 1699 Jawa.

Masjid Gedhe didirikan atas inisiasi Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu keraton. Rancang bangunnya dikerjakan oleh Kiai Wiryokusumo.

Baca juga: Sejarah Masjid Pathok Negoro Babadan Bantul, Pengadilan Surambi di Zaman Lampau

Adapun posisi Masjid Gedhe Kauman tidak jauh dari Kraton Yogyakarta, sebelah barat tepat disamping Alun-alun Utara.

Secara administrasi masjid ini beralamat di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Konstruksi Bangunan

Serambi Masjid Gedhe Kauman saat ini
Serambi Masjid Gedhe Kauman saat ini (kratonjogja.id)

Bagian atap masjid ini menggunakan sistem atap tumpang tiga dengan mustaka yang mengilustrasikan daun kluwih dan gadha.

Sistem atap tumpang tiga ini memiliki makna kesempurnaan hidup melalui tiga tahapan kehidupan manusia yaitu, Syariat, Makrifat dan Hakekat.

Perubahan jaman dengan segala peristiwanya telah membuat bangunan masjid ini berkembang dan berbeda dengan masa lalunya.

Pada tahun 1867 terjadi gempa besar yang meruntuhkan bangunan asli serambi Masjid Gedhe Kauman diganti dengan menggunakan material yang khusus diperuntukkan bagi bangunan kraton.

Termsauk lantai dasar masjid yang terbuat dari batu kali kini telah diganti dengan marmer dari Italia.

Pesona dari Masjid Gedhe Kauman terletak pada beberapa keunikan salah satunya pemasangan batu kali putih pada dinding masjid tidak menggunakan semen dan unsure perekat lain, serta penggunaan kayu jati utuh yang telah berusia 200 tahun lebih sebagai penumpang bangunan masjid tersebut.

Baca juga: Sejarah Masjid Pathok Negoro Plosokuning, 80 Persen Bangunan Asli Sejak Tiga Abad Lalu

Seperti pada umumnya sebuah masjid raya, Masjid Gedhe Kauman terdiri dari masjid induk dengan satu ruang utama sebagai tempat untuk sholat yang dilengkapi tempat imam memimpin sholat atau mihrab.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved