Ramadan 2024
Masjid Gedhe Kauman, Syiar Agama Islam yang Bercorak Budaya Jawa
Masjid Gedhe Kauman didirikan atas inisiasi Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu keraton.
Penulis: Santo Ari | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM - Yogyakarta memiliki banyak bangunan masjid dengan nilai sejarah yang kental. Salah satu masjid bersejarah yang ada di Jogja adalah Masjid Gedhe Kauman yang berumur lebih dari 200 tahun.
Sejarah keberadaan Masjid Gedhe Kauman tidak bisa dilepaskan dari Kraton Kasultanan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam dalam perundingan Giyanti pada tahun 1755.
Masjid Gedhe Kauman berdiri 18 tahun kemudian setelah perjanjian Giyanti.
Dikutip dari laman Kratonjogja.id, Masjid Gedhe Kauman dibangun pada hari Ahad Wage 29 Mei 1773 Masehi, atau 6 Rabi'ul Akhir 1187 Hijriah/Alip 1699 Jawa.
Masjid Gedhe didirikan atas inisiasi Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu keraton. Rancang bangunnya dikerjakan oleh Kiai Wiryokusumo.
Baca juga: Sejarah Masjid Pathok Negoro Babadan Bantul, Pengadilan Surambi di Zaman Lampau
Adapun posisi Masjid Gedhe Kauman tidak jauh dari Kraton Yogyakarta, sebelah barat tepat disamping Alun-alun Utara.
Secara administrasi masjid ini beralamat di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.
Konstruksi Bangunan

Bagian atap masjid ini menggunakan sistem atap tumpang tiga dengan mustaka yang mengilustrasikan daun kluwih dan gadha.
Sistem atap tumpang tiga ini memiliki makna kesempurnaan hidup melalui tiga tahapan kehidupan manusia yaitu, Syariat, Makrifat dan Hakekat.
Perubahan jaman dengan segala peristiwanya telah membuat bangunan masjid ini berkembang dan berbeda dengan masa lalunya.
Pada tahun 1867 terjadi gempa besar yang meruntuhkan bangunan asli serambi Masjid Gedhe Kauman diganti dengan menggunakan material yang khusus diperuntukkan bagi bangunan kraton.
Termsauk lantai dasar masjid yang terbuat dari batu kali kini telah diganti dengan marmer dari Italia.
Pesona dari Masjid Gedhe Kauman terletak pada beberapa keunikan salah satunya pemasangan batu kali putih pada dinding masjid tidak menggunakan semen dan unsure perekat lain, serta penggunaan kayu jati utuh yang telah berusia 200 tahun lebih sebagai penumpang bangunan masjid tersebut.
Baca juga: Sejarah Masjid Pathok Negoro Plosokuning, 80 Persen Bangunan Asli Sejak Tiga Abad Lalu
Seperti pada umumnya sebuah masjid raya, Masjid Gedhe Kauman terdiri dari masjid induk dengan satu ruang utama sebagai tempat untuk sholat yang dilengkapi tempat imam memimpin sholat atau mihrab.
Samping kiri belakang mihrab terdapat maksura yang terbuat dari kayu jati bujur sangkar dengan lantai marmer yang lebih tinggi serta dilengkapi dengan tombak.
Maksura difungsikan sebagai tempat pengamanan raja apabila Sri Sultan berkenan sholat berjamaah di Masjid Gedhe Kauman.
Tidak jauh dari mihrab terdapat Mimbar yang berbentuk singgasana berundak sebagai tempat bagi khotib dalam menyampaikan khotbah Jumat.
Mimbar dibuat dari kayu jati berhiaskan ukiran indah berbentuk ornament stilir tumbuh-tumbuhan dan bunga di prada emas.
Selain ruang inti masjid induk juga dilengkapi dengan berbagai ruangan yang memiliki fungsi berbeda, seperti pawestren (tempat khusus bagi jamaah putri), yakihun (ruang khusus peristirahatan para ulama, khotib, dan merbot), blumbang (kolam), dan tentu saja serambi masjid.
Baca juga: Sejarah Masjid Pathok Negoro Dongkelan, Tempat Ibadah sekaligus Benteng Pertahanan
Bagian lain dari kompleks Masjid Gedhe pada masa sekarang adalah KUA, kantor Takmir, Pagongan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan gamelan Sekaten, Pajagan yang dulunya digunakan sebagai tempat prajurit kraton berjaga dan terletak memanjang di kanan kiri gapura, serta regol atau gapura yang berbentuk Semar Tinandu dan merupakan pintu gerbang utama kompleks masjid.
Menu Spesial saat Ramadan

Selama bulan Ramadan, Masjid Gedhe Kauman tak pernah absen menyajikan menu berbuka puasa atau takjil setiap sore.
Ciri khas yang terkenal di masjid ini adalah menyajikan ribuan porsi gulai kambing tiap hari Kamis.
Tradisi berbuka puasa dengan menu gulai kambing ini sudah berjalan sejak puluhan tahun silam, atau kisaran 1950an.
Mulanya, tradisi tersebut dilangsungkan sebagai bagian dari dakwah agama Islam. Pada masa-masa itu pihak takmir mengalami kesulitan untuk mengajak masyarakat singgah ke masjid, dan gulai kambing terbukti dapat meningkatkan jamaah untuk datang.
Kebiasaan itu pun menjadi tradisi dan porsi yang harus disediakan Takmir Masjid Gedhe Kauman turut meningkat pula setiap tahunnya, karena jumlah jemaah yang semakin banyak.
Saat ini, setiap Kamis Masjid Gedhe Kauman menyiapkan 1.500 porsi gulai kambing yang rata-rata sudah ludes sebelum Magrib tiba.(*)
17 Contoh Balasan Ucapan Idul Fitri Bahasa Jawa Halus, Biar Gak Cuma Jawab : Sama-sama |
![]() |
---|
40 Ucapan Mohon Maaf Lahir Batin Idul Fitri untuk Orang Tua Karena Anda Masih di Perantauan |
![]() |
---|
3 Bacaan Takbir Populer untuk Malam Takbiran Idul Fitri 1445 |
![]() |
---|
JADWAL Buka Puasa di Jogja Hari Ini 9 April 2024, Kota Jogja Sleman 17:42, Kulon Progo 17:43 WIB |
![]() |
---|
JADWAL Buka Puasa di Jawa Tengah Hari Ini Selasa 9 April 2024, Magelang 17:43, Wonosobo 17:48 WIB |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.