Ditambahkan Hendro, dalam Perjanjian Giyanti bukan sekadar bicara soal pembagian kekuasaan.
Tapi, di dalamnya terdapat ketidaksetujuan Pangeran Mangkubumi terhadap masalah-masalah etis yang timbul di dalam internal pemerintahan maupun di dalam pembagian kekuasaan maupun juga hubungannya dengan Pemerintahan Belanda pada waktu itu.
"Ini menarik dan itu menjadi poin penting, ternyata bukan soal perang saja yang diutamakan oleh Pangeran Mangkubumi. Ternyata beliau sudah berpikir kalau saya berkuasa nantinya hanya soal perang, mungkin kerajaan, monarki ataupun juga Kesultanan yang akan didirikan tidak akan langgeng,"
"Beliau sudah memprediksi ini, jadi Perjanjian Giyanti ini dalam rangka untuk menyelamatkan pemerintahan yang ada dalam cita-cita beliau yaitu Nagari Kesultanan Yogyakarta dan eksistensinya saya kira jauh sebelum beliau berpikir. Terbukti hari ini sudah terjaga eksistensi daripada Kesultanan, Kadipaten atau sebuah negara," jelasnya. (*)