Diskusi Publik Sinau Sejarah, 13 Maret Hadeging Nagari dan Hari Jadi DIY

Penetapan tanggal hari jadi tersebut, lanjut Yazid, awal mulanya dikaitkan dengan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 atau abad ke 18.

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Muhammad Fatoni
Dok. Istimewa
Paniradya Kaistimewaan DIY menggelar diskusi publik bertajuk 'Sinau Sejarah - 13 Maret, Hadeging Nagari dan Hari Jadi DIY' di Omah Wayang, Jalan Langenastran Kidul, Kalurahan Panembahan, Kapanewon Kraton, Yogyakarta, Rabu (13/3/2024). 

"Memang dalam pembahasan Pansus cukup dinamis, walaupun Pansus ini terdiri hanya usulannya itu 7 pasal saja akan tetapi cukup dinamis di dalam membahas. Kami mencoba untuk mengeksplor sedemikian rupa, sejauh mungkin, sampai ke Perpustakaan Nasional melihat beberapa naskah ataupun dokumen Babad Giyanti dan lain sebagainya,"

"Bahkan sebetulnya kemarin kita mau Museum Leiden, karena beberapa bagian dokumen sejarah kita itu di sana. Tapi Alhamdulillah kita sudah ada fotokopi digitalnya di Perpustakaan Nasional dan yang paling relevan adalah 13 Maret," ujarnya.

Penetapan tanggal hari jadi tersebut, lanjut Yazid, awal mulanya dikaitkan dengan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 atau abad ke 18.

Usai dilakukan ratifikasi, peristiwa yang menjadi cikal bakal terbentuknya Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta tersebut tidak otomatis dipilih sebagai hari lahir bagi DIY.

"Tepat sebulan setelahnya, 13 Maret 1755, Kamis Pon, 29 Jumadil Awal tahun Be 1680, Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I memproklamirkan Hadeging Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di Pesanggrahan Garjitowati. Peristiwa bersejarah inilah yang menjadi cikal bakal tanggal 13 Maret 1755 akhirnya ditetapkan menjadi Hari Jadi DIY," ujarnya.

Ditambahkan Yazid, Sultan HB I mengumumkan secara resmi daerah kekuasaannya dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat dalam kesempatan tersebut.

Lokasinya di Hutan Beringan atau Pabringan yang terdapat sebuah umbul atau mata air Pacethokan dan Pesanggrahan Garjitowati.

Pembangunan pasanggrahan tersebut diprakarsai Sunan Amangkurat IV kemudian diteruskan Sunan Pakubuwono II sampai rampung.

Setelah pembangunan selesai pesanggrahan tersebut diubah namanya menjadi Ayodhya.

Nama Ayodhya ini kemudian dilafalkan menjadi Ngayodhya dan Ngayogya.

Dari kata inilah kemudian menjadi Ngayogyakarta Hadiningrat yang berarti tempat yang baik dan sejahtera yang menjadi suri tauladan keindahan alam semesta.

Sementara itu, Tenaga Ahli Parampara Praja dan Koordinator Bidang Pendidikan dan Pelatihan Pusat Studi Pancasila UGM, Hendro Muhaimin, M.A. mengatakan bahwa yang harus dipahami dari Hari Jadi DIY ialah bukan soal proses perpindahan atau perpisahan sebuah wilayah.

"Dari sekian referensi yang saya baca, memang tidak ada tanggal yang pasti hanya merujuk sekitar Februari- Maret 1755, tidak pada tanggal berapa dan dimana," ujar Hendro.

Ditambahkan Hendro, dengan adanya Hari Jadi ini menjadi payung hukum bagi DIY.

"Sebagaimana di dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 3 tahun 1950 tentang DIY, kita pun juga kebingungan ke mana menyetir kapan hari jadi ini ada, kapan DIY ini lahir.  Sedangkan kalau dihitung-hitung, tentukan kita sebagai warganya bertanya-tanda. Negara Indonesia saja 17 Agustus Proklamasinya, sementara Yogyakarta yang ikut bagian mempertahankan republik kok belum punya hari jadinya," kata Hendro.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved