Berita Kesehatan

Kenali Bahaya Pneumonia dan Covid-19 pada Bayi

Penularan pneumonia pada anak sering terjadi disebabkan oleh bakteri Pneumococcus.

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Muhammad Fatoni
Tribunjogja.com/ Ist
Dokter muda lulusan UGM, dr. Dixon Hovin. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pneumonia merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang setiap tahunnya menjadi penyebab utama kematian pada bayi dan balita. 

Penularan pneumonia pada anak sering terjadi disebabkan oleh bakteri Pneumococcus.

Sebab itu, langkah pencegahan perlu dilakukan guna melindungi Pneumonia pada anak.  

"Harus mengetahui arti asal dari kata pneumonia,neumon Bahasa dari Yunani kuno artinya paru-paru. Kalau sudah ada gambaran paru-paru biasanya sudah tau. Infeksi paru-paru disebabkan oleh bakteri dan virus. Efeknya bagaimana dan gambarannya bagaimana? Dalam paru-paru ada kantung-kantung kecil seperti gelembung, ketika orang normal akan mengembang. Ketika mengembang akan terisi udara akan terjadi pertukaran oksigen," terang dr. Dixon Hovin dalam perbincangan bersama Doodle Exclusive Baby Care, Senin (12/2/2024).

"Pada orang yang terkena pneumonia atau infeksi paru-paru daerah kantung-kantung tersebut akan berisi cairan bisa cairan nanah, cairan karena infeksi seperti lendir yang menyebabkan gangguan pada pertukaran oksigen yang membuat pernapasan menjadi sulit dan bisa membahayakan jika sudah terlalu parah," lanjut dokter lulusan UGM ini.

Sementara untuk Covid-19, lanjut dokter lulusan UGM ini, gejalanya biasanya menyerang infeksi saluran pernapasan bisa flu, bisa pilek seperti flu, bahkan kalau pada anak bergejala demam, ruam, diare, dan muntah. Bahkan bisa juga terjadi gejala berat pada anak.

"Ketika sudah gejala berat, ingat Kembali lagi pneumonia adalah infeksi paru-paru yang disebabkan bakteri atau virus. Virus covid 19 itu bisa menyebabkan pneumonia hanya saja pada anak-anak tidak parah dan penyebab kematiannya sedikit. Infeksi covid 19 bisa menyebabkan pneumonia tetapi tidak semua pneumonia merupakan Covid-19," jelasnya.

Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Rachmi Yogyakarta ini mengungkapkan jika faktor resiko bermacam-macam terutama pada bayi, pertama harus ada infeksi dari tempat lain.

Ada riwayat batuk pada keluarga atau lingkungan sekitar atau mungkin ada anak-anak dari sekolah yang menularkan ke bayi. Polusi baik polusi indoor maupun polusi outdoor.

"Yang termasuk polusi outdoor misalnya asap kendaraan, debu sedangkan polusi indoor misalnya asap rokok, beberapa tempat masih menggunakan tungku untuk memasak itu juga mempengaruhi terjadinya pneumonia. Selain itu penyebab lain dikarenakan kelainan jantung bawaan, aspirasi makanan saat makan kelainan anatomis sehingga makanan atau minumannya masuk ke paru-paru, anak-anak gizi buruk, geerd yang menyebabkan infeksi pada paru-paru," kata Dokter Dixon.

Ditambahkan Dixon, pneumonia adalah suatu infeksi paru-paru disebabkan oleh virus atau bakteri. Pada anak-anak memang lebih sering disebabkan bakteri. Pengobatannya bakteri dengan meminum antibiotik.

Dengan meminum antibiotik biasanya akan sembuh, tetapi tidak jarang jika ada gejala berat butuh perawatan extra seperti rawat inap dengan diberikan oksigen. Sedangkan jika infeksi disebabkan virus seperti infeksi covid biasanya self-limiting disease.

"Apa itu self-limiting disease itu adalah tubuh akan sembuh dengan sendirinya, imun tubuh yang melawan. Yang dibutuhkan hanya terapi-terapi suportif seperti misalnya jika demam mengkonsumsi obat demam, jika batuk berdahak minum pengencer dahak. Tetapi apakah bisa sembuh Atau tidak? Inilah butuh support orang-orang sekitar seperti orangtua ataupun pengasuh dan segera ke fasilitas kesehatan terdekat," lanjutnya.

Dokter yang berdomisili di Kota Yogyakarta ini turut menuturkan bagaimana pneumonia dapat mempengaruhi perkembangan jangka panjang.

Untuk bayi atau anak terkena pneumonia kembali, bisa dilihat ada 2 kemungkinan, bisa jadi pneumonia sendiri atau ada faktor lain misalnya mempunyai kelainan jantung bawaan atau memiliki gerd pada bayi kemungkinan bisa terkena infeksi pneumonia besar.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved