BPBD Sleman Pastikan Sleman Aman dari Ancaman Banjir Lahar Dingin Gunung Merapi

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pastikan Sleman aman dari ancaman banjir lahar dingin Merapi.

Akun X @BPPTKG
Terjadi erupsi di Gunung #Merapi tanggal 21 Juni 2020 pukul 09.13 WIB. Erupsi tercatat di seismogram dgn amplitudo 75 mm dan durasi 328 detik. Teramati tinggi kolom erupsi ± 6.000 meter dari puncak. Arah angin saat erupsi ke barat. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pastikan Sleman aman dari ancaman banjir lahar dingin Merapi.

Hal itu disampaikan oleh Kepala BPBD Kabupaten Sleman, Makwan. Ia mengatakan pihaknya telah menyiapkan antisipasi dengan terus memantau aktivitas Merapi.

Selain hujan abu, tumpukan material di lereng Merapi dapat berakibat pada banjir lahar dingin, apabila curah hujan tinggi. 

"Kalau sudah ada abu vulkanik di lereng Merapi yang perlu diantisipasi banjir lahar kalau ada hujan, ada material numpuk situ tambah abu vulkanik. Maka potensi banjir lahar semakin cepat. Kalau banjir lahar gimana? Masih aman," katanya, Senin (22/01/2024). 

"Karena palung sungai kita masih cukup dalam, mampu menampung puluhan ribu meter kubik material," sambungnya. 

Adanya dam juga mampu menahan banjir lahar. Apalagi di Sleman ada beberapa dam, sehingga lahar dingin dapat tertahan dengan baik. 

"Sehingga material nggak melintas kemana-mana, ditahan, kalau penuh baru turun lagi. Nanti ditahan lagi, ditampung lagi, terus sampai ke bawah. Dam di Merapi kan banyak, sehingga masih aman untuk masyarakat kanan kiri sungai," lanjutnya. 

Baca juga: Gunung Merapi Erupsi, Hujan Abu Sempat Terjadi di Desa Tegalmulyo Klaten

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso menerangkan suplai magma di Gunung Merapi masih terjadi. Hal itu dibuktikan dengan berbagai data kegempaan maupun deformasi.

Curah hujan yang tinggi juga memicu suplai magma ke permukaan, sehingga membentuk awan panas. 

Sejak berstatus Siaga atau Level III pada 5 November 2020 lalu, pihaknya mencatat ada sekitar 9 kali rentenan APG.

Rentetan APG pertama kali terjadi pada 27 Januari 2021, dan terakhir terjadi pada 8 Desember 2023, sebelum akhirnya kembali terjadi pada 21 Januari 2024. 

Rentetan APG masih belum berakhir dalam waktu dekat. Mengingat suplai magma masih berlangsung dan data kegempaan maupun deformasi masih signifikan. 

"Kami selalu komunikasi intensif dengan BPBD untuk update aktivitas Merapi agar diantisipasi. Yang bisa dilakukan saat ini oleh masyarakat dan pemerintah adalah meningkatkan kemampuan untuk antisipasi situasi emergency. Simulasi-simulasi itu harus selalu dilatih. Sehingga ketika aktivitas Merapi berkembang sewaktu-waktu, mereka sudah siap dengan responnya gitu," imbuhnya. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved