Berita Kabupaten Magelang Hari Ini

Jaga Kelestarian Sungai Progo, Warga Sambeng Borobudur Magelang Gelar Prosesi Sedekah Jala Sakmadya

Masyarakat adat Dusun Gleyoran Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang menggelar Festival Sedekah Jala Sakmadya pada Sabtu (9/12/2023) sore.

Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Kurniatul Hidayah
Prokompim Kabupaten Magelang
Festival Jala Sakmadyo dengan ritual selamatan di atas rakit alur Sungai Progo Desa Sambeng Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Masyarakat adat Dusun Gleyoran Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang menggelar Festival Sedekah Jala Sakmadya pada Sabtu (9/12/2023) sore.

Festival yang dikemas dalam bentuk ritual tradisional tersebut menjadi salah satu bentuk konservasi ekologi Sungai Progo yang menjadi sumber kehidupan masyarakatnya.

Penggerak budaya Desa Sambeng Siti Nur Hidayah mengatakan, kelestarian ekologi Sungai Progo bagi penduduk Dusun Gleyoran adalah berkah kehidupan.

Baca juga: Sebanyak 37 Simpang di Kota Yogyakarta Terkoneksi ATCS, Siap Antisipasi Kemacetan Libur Nataru

Karena sebagian besar warga bergantung dari Sungai Progo untuk penghidupan. Seperti dengan menjadi nelayan tradisional dan petani ladang secara turun temurun.

Para nelayan di sana masih menggunakan metode penangkapan tradisional dengan menebar jala dan memasang wuwu atau sejenis jebakan berbahan dasar bambu.

"Jadi kita mengangkat tema Jala Sakmadya agar masyarakat tidak mencari ikan berlebihan, sebanyak banyaknya atau tidak rakus, tapi mencari ikan secukupnya," ungkap Siti Nur Hidayah atau Dayah disela-sela ritual tersebut.

Prosesi ritual Jala Sakmadya dilakukan dengan serangkaian doa, tarian, dan persembahan hasil bumi masyarakat sebagai bentuk relasi menyatunya manusia dengan Sungai Progo.

Tembang Sholawatan Jawa, tabuhan rebana dan bedhug dari kelompok Sabdo Jati mengiringi prosesi tersebut.

Semua warga turut serta berjalan kaki sekitar 1 km dari tengah dusun menuju lokasi Kedung Balong yang merupakan bantaran Sungai Progo.

Lebih lanjut, Dayah mengatakan dalam event kali ini juga digelar pameran foto kegiatan masyarakat selama satu tahun terakhir, ritual jamasan jaran kepang hingga mengangkat isu ketahanan pangan dengan menampilkan gunungan durian dan sayur mayur.

"Ritual ini sebagai wujud rasa syukur masyarakat Dusun Gleyoran atas kemakmuran dari aliran Sungai Progo seperti hasil bumi dan tangkapan ikan yang melimpah," papar Dayah.

Dijelaskan Dayah, jika keberadaan Sungai Progo juga merupakan sungai yang memiliki relasi dengan Candi Borobudur sehingga menjaga ekologi sungai juga menjaga Borobudur dari keserakahan manusia. Maka diharapkan dari berkat Borobudur tersebut masyarakat mampu mengambil manfaat baik segi material maupun moral.

Selain wujud sedekah kepada Sungai Balong (hilir Sungai Progo) prosesi ritual ini juga menjadi sarana promosi wisata Desa Sambeng yang hanya berjarak 3 km dari Candi Borobudur. Dusun Gleyoran Desa Sambeng menawarkan wisata alam berbasis aktivitas rakit dan kuliner ikan segar khas tangkapan Sungai Progo.

Dalam rangkaian tradisi ini juga digelar pasar jajanan tradisional, potong tumpeng, pentas kesenian, dan puncaknya adalah grebeg gunungan hasil bumi oleh warga setempat.

"Karena mengangkat desa wisata berdasar potensi lokal yang telah ada harapannya ekonomi masyarakat lebih meningkat," tutur Dayah. (tro)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved