Puisi

Kumpulan Puisi Karya Goenawan Mohamad

Berikut kumpulan puisi karya Goenawan Mohamad, Goenawan Mohamad dikenal sebagai penyair dan tokoh yang aktif dalam dunia jurnalistik.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Kompas.com
Kumpulan Puisi Karya Goenawan Mohamad 

Pasti nenek peri, dengan suara kanker di perut,
akan berkata,
“Tinggal cobaan dalam puasa
di padang gurun, di mana kau tak bisa.”

Mengapa kita di Sarajevo?
Mengapa gerangan kita pertahankan kota ini?
Seperti dalam sebuah kisah film,
Sarajevo tak bisa takluk.

Kita tak bisa takluk
Tapi keluar dari gedung rapat umum,
orang-orang sipil
akan mengenakan baju mereka yang terbaik,

mencium pipi para isteri, ramah tapi gugup,
meskipun mereka, di dalam saku,
menyembunyikan teks yang gaib itu:
“Bukan roti, melainkan firman.”

Batu-batu di trotoar ini
memang tak akan bisa jadi roti
cahaya salju di kejauhan itu
juga tak akan jadi firman

Tapi misalkan kita di Sarajevo
Di dekat museum itu kita juga akan takzim
membersihkan diri: Biarkan aku mati
dalam warna kirmizi.”

Lalu aku pergi
kau pergi, berangkat, tak memucat
seperti awal pagi
di warna kirmizi

2. Puisi Dingin Tak Tercatat Goenawan Mohamad

Dingin tak tercatat
pada termometer
Kota hanya basah

Angin sepanjang sungai
mengusir, tapi kita tetap saja
di sana. Seakan-akan

gerimis raib
dan cahaya berenang
mempermainkan warna.
Tuhan, kenapa kita bisa
bahagia?

Baca juga: Kumpulan Puisi Karya Buya Hamka Sosok Pahlawan Indonesia dan Juga Sastrawan

3. Puisi Asmaradana Goenawan Mohamad

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa
hujan dari daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda
serta langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan
bimasakti,
yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada
yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia
melihat peta,
nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak
semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.
Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh
ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang
akan tiba, karena ia tak berani lagi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved