Berita Kebumen

Dua Anak Muda Asal Kebumen Mengembangkan Usaha Jamu Ajak Masyarakat Hidup Sehat

Gaya hidup maupun pola makan yang tidak sehat kerap dilakukan oleh semua orang khususnya anak muda. Seperti mengonsumsi makanan pedas

|
Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/Sri Cahyani Putri Purwaningsih
Siska dan Imanintan, dua anak muda asal Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah yang merupakan pengelola Kedai Nyanding Jamu di Kecamatan Gombong. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Sri Cahyani Putri Purwaningsih

TRIBUNJOGJA.COM, KEBUMEN - Gaya hidup maupun pola makan yang tidak sehat kerap dilakukan oleh semua orang khususnya anak muda.

Seperti mengonsumsi makanan pedas maupun minuman yang berpotensi diabetes. 

Tak jarang gaya hidup maupun pola makan yang tidak sehat itu akhirnya menimbulkan penyakit. 

Baca juga: Seorang Residivis Pencuri Padi Diamankan Jajaran Polsek Muntilan

Berawal dari keprihatinan tersebut, dua anak muda asal Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah kemudian mengembangkan kedai jamu yang diberi nama "Nyanding Jamu".

Kedai tersebut berlokasi di Kecamatan Gombong.

Pengelola Kedai Nyanding Jamu, Imanintan Susan menceritakan, awal berdirinya Nyanding Jamu bermula usai dirinya lulus kuliah pada program studi jamu di sebuah kampus kesehatan di bawah naungan Kementerian Kesehatan. 

Menggeluti usaha jamu juga bukan menjadi hal baru bagi dirinya. Pasalnya, usaha itu telah digeluti secara turun temurun. 

"Berawal dari keluarga udah ada usaha jamu. Kebetulan saya alumni jurusan jamu di sebuah kampus kesehatan. Kemudian saya pengin mengembangkan inovasi jamu agar bisa diterima semua masyarakat khususnya anak muda," katanya, Senin (13/11/2023). 

Kedai Nyanding Jamu dirintis sejak setahun yang lalu. Terdapat 10 item jamu racikan yang telah dibuat dengan berbagai khasiat. Di antaranya jamu untuk penyakit diabetes, hipertensi, lambung, jantung, tumor, pegel linu, pelancar Air Susu Ibu (ASI) dan menstruasi dan lainnya.

Selain jamu racikan, dirinya juga melayani jamu yang bisa langsung dinikmati langsung di kedai seperti kunyit asam, jahe dan rosela alang-alang. 

Menurut Intan, membuat jamu racikan lebih sulit ketimbang jamu yang diminum secara langsung di kedai. 

"Paling susah meracik jamu racik. Biasanya kalau meracik ditanyakan dulu terkait gejala yang dirasakan oleh konsumen," ucapnya. 

Pengelola lainnya, Siska Wulandari menambahkan, merintis usaha jamu untuk menepis anggapan jamu berasa pahit. 

Sekaligus upaya mengajak anak muda untuk menjaga hidup sehat. 

"Disini kami berinovasi, biasanya yang dijual di pasaran hanya kunir asem terus kita tambah yakult dan ada minuman lainnya," kata Siska. 

Adapun, jamu racikan dijual seharga Rp 15.000-50.000 per bungkus. Sementara, jamu yang langsung diminum seharga Rp 7.000-25.000 per gelas. (scp) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved