Berkekuatan 52 Orang, Kontingen Pesparani DIY Berkompetisi di Jakarta
Gelaran seni religi Katolik ini diikuti oleh sekitar 7.500 peserta dari 38 provinsi dan mempertandingkan 13 kategori lomba.
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kontingen DIY yang terdiri dari 52 peserta beserta enam pelatih dan tujuh orang official berpartisipasi dalam Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Katolik Tingkat Nasional III Tahun 2023 di Beach City International Stadium Ancol, Jakarta Utara.
Gelaran seni religi Katolik ini diikuti oleh sekitar 7.500 peserta dari 38 provinsi dan mempertandingkan 13 kategori lomba.
Acara pun diawali dengan iring-iringan 38 kontingen provinsi peserta yang meriah.
PESPARANI III ini digelar sejak 27 Oktober hingga 1 November 2023.
Pada PESPARANI kali ini kontingen DIY mengikuti 8 kategori lomba, yakni paduan suara dewasa campuran, Mazmur anak, Mazmur remaja, Mazmur OMK, Mazmur dewasa, cerdas cermat anak, cerdas cermat remaja, dan bertutur kitab suci.
Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X saat menerima audiensi kontingen DIY sebelum keberangkatan telah berpesan kepada peserta agar PESPARANI tidak hanya dijadikan ajang lomba, tapi juga sebagai ajang dalam membangun komunikasi antar kontingen yang berasal dari seluruh Indonesia.
"Kita bertemu, bersilaturahmi menambah teman, silaturahmi membawa kebaikan tersendiri. Dan mohon kepada pembimbing untuk tidak terlalu memaksakan keinginan kepada para peserta, yang paling penting peserta bisa menampilkan yang terbaik," imbuh Sri Paduka.
Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, dalam sambutannya pada pembukaan PESPARANI III mengatakan, PESPARANI diharapkan bisa semakin mempertebal keimanan umat Katolik dan kecintaan terhadap negara.
Dan sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, umat Katolik baginya memang bukan saudara seiman, namun saudara dalam kemanusiaan.
"Saya ingat ucapan dari Romo Suharyo, yang juga adalah guru saya, kiai saya. Beliau mengatakan, doktrin utama beliau adalah 100 persen katolik, 100 % Indonesia. Kalimat sederhana ini tentu harusnya mampu menginspirasi kita semua sebagai warga bangsa Indonesia bahwa kita kodratnya dicirikan majemuk," ungkapnya.
Menurut Yaqut, kodrati kemajemukan Indonesia tersebut sangat erat hubungannya dengan tema yang diangkat PESPARANI III. Kebersamaan dalam keberagaman menjadi kunci merdekanya Indonesia. "Saya percaya umat Katolik mampu menjaga keberagaman sebagai sebuah kebersamaan, sekaligus sebuah kekuatan bagi bangsa ini," imbuhnya.
Uskup Agung, Ignasius Kardinal Suharyo mengatakan, sejak penyelenggaraan PESPARANI I, PESPARANI selalu dilaksanakan di sekitar tanggal 28 Oktober dengan sengaja. Ini dikarenakan tanggal 28 Oktober adalah hari ulang tahun Sumpah Pemuda dan tahun ini telah masuk usia 95 tahun.
"Bagi saya sendiri dan bagi umat Katolik, hal ini pasti mempunyai pesan dan makna yang istimewa, yaitu ketika kita mengadakan PESPARANI, menyanyikan lagu-lagu gereja, kita ingin memuliakan Tuhan. Ketika kita mengadakan PESPARANI di momen Sumpah Pemuda, kita ingin menunjukkan cinta kita akan tanah air yang telah terungkap dengan sangat jelas di dalam rumus satu nusa, satu bangsa, satu bahasa," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Panitia PESPARANI III, Sebastian Salang mengatakan, penyelenggaraan PESPARANI III ini adalah sebuah berkat sekaligus rahmat karena PESPARANI selalu dijiwai dengan semangat Sumpah Pemuda.
Selain penyelenggaraan tahun ini juga bertepatan dengan momentum tahun politik, di mana akan terjadi pertarungan dan persaingan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-yogyakarta_20180911_145553.jpg)