Apa Itu Tradisi Nguras Enceh di Makam Raja-raja Imogiri?

Mengenal tradisi Nguras Enceh: pengertian, sejarah, filosofi, prosesi, mitos tentang air enceh, dan lain-lain.

Penulis: Alifia Nuralita Rezqiana | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM
Apa Itu Tradisi Nguras Enceh di Makam Raja-raja Imogiri?. FOTO: Seorang abdi dalem menguras enceh di makam raja-raja Imogiri, Jumat (7/10/2016). 

TRIBUNJOGJA.COM - Hari ini, Jumat (28/7/2023) bertepatan dengan hari Jumat Kliwon, 9 Sura 1957 Jimawal.

Terpantau, masyarakat mulai berbondong-bondong mengunjungi Makam Raja-Raja Imogiri di Desa Jimatan, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Mereka datang untuk menyaksikan tradisi “Nguras Enceh”.

Apa itu tradisi Nguras Enceh? Berikut penjelasannya, seperti dirangkum Tribunjogja.com dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia (RI) dan laman resmi Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Mengenal Tradisi Nguras Enceh

Seorang abdi dalem menguras enceh di makam raja-raja Imogiri, Jumat (7/10/2016).
Seorang abdi dalem menguras enceh di makam raja-raja Imogiri, Jumat (7/10/2016). (TRIBUNJOGJA.COM)

Tradisi Nguras Enceh adalah ritual menguras gentong milik Sultan Agung di Makam Raja-raja Imogiri, Bantul, DIY.

Ritual adat Nguras Enceh ini digelar setiap bulan Suro, pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon.

Nguras Enceh 2023 digelar pada Jumat Kliwon, 9 Sura 1957 TJ atau Jumat, 28 Juli 2023.

Arti kata “Nguras Enceh” adalah “menguras gentong” atau “menguras tempayan”.

Enceh merupakan benda yang terbuat dari tanah liat yang sudah dibakar, ukurannya sangat besar, biasa digunakan untuk tempat menyimpan air untuk memasak, air untuk wudu, atau menyimpan barang-barang berharga pada zaman dahulu, termasuk menyimpan padi.

Empat Enceh milik Sultan Agung

Lukisan Sultan Agung, Raja Mataram
Lukisan Sultan Agung, Raja Mataram (DOK. Wikipedia)

Enceh yang berada di Makam Raja-raja Imogiri bukan enceh biasa.

Pada zaman Sultan Agung, enceh itu digunakan untuk berwudu. 

Namun, setelah Sultan Agung wafat atau mangkat, enceh-enceh miliknya dibawa ke Makam Raja-raja Imogiri.

Selain eceh, ada juga barang lain yang diboyong ke Makam Raja-raja Imogiri, antara lain cincin yang terbuat dari tongkat Sultan Agung dan daun tujuh rupa (daun yang digunakan sebagai ramuan wedang uwuh minuman khas Imogiri). 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved