Berita Bantul Hari Ini

Tercatat Ada 47 Ribu Balita di Bantul, 6 Persen di antaranya Mengalami Stunting

Pemkab Bantul terus berupaya menurunkan angka stunting pada anak. Berdasarkan  Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka prevalensi stunting Bantul

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Bantul 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemkab Bantul terus berupaya menurunkan angka stunting pada anak. Berdasarkan  Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka prevalensi stunting Bantul pada 2021 adalah 19,1 persen.

Upaya yang dilakukan Pemkab Bantul untuk menurunkan stunting terbukti dengan turunnya angka stunting pada 2022 menjadi 14,9 persen.

Wakil Bupati Bantul Joko Purnomo mengatakan bahwa turunnya stunting di Kabupaten Bantul adalah buah dari kerja keras semua pihak.

Baca juga: Pemkab Sleman Fasilitas Angkutan Gratis Bagi Pedagang Pasar Godean Pindah ke Tempat Relokasi

Meski angka stunting di 2022 turun, namun pihaknya tak akan berhenti di situ saja dan terus berupaya menekan angka stunting.

Terbukti di triwulan pertama tahun 2023 ini, berdasarkan pengukuran berat badan lebih dari 47 ribu balita, sebanyak 6 persen di antaranya mengalami stunting.

"Harapan kita kalau angka temuan angka enam persen akan berlanjut hingga akhir tahun maka jumlah stunting di Bantul yang saat ini mencapai 14,9 persen bisa turun jauh," ujarnya, Sabtu (10/6/2023).

Joko yang juga sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Bantul mengatakan bahwa saat ini pemerintah terus memberdayakan seluruh elemen dalam percepatan pengurangan stunting.

Ia menekankan bahwa Posyandu harus menjadi pos darurat awal pelayanan kesehatan.

Selanjutnya puskesmas akan mendampingi dan mengedukasi posyandu untuk menentukan langkah penyelesaian masalah kesehatan di masyarakat.
 
“Selain itu, pemerintah juga telah menggelontorkan tambahan anggaran mulai Tahun 2022 untuk seluruh padukuhan, salah satunya bisa digunakan di posyandu," ungkapnya.

Ia berharap, dengan anggaran per padukuhan Rp 50 juta bisa dimanfaatkan untuk menurunkan angka stunting di setiap padukuhan yang ada di Kabupaten Bantul. Jika stunting dapat ditekan, maka generasi muda Bantul akan semakin unggul dan cerdas.  

"Omong kosong besar kita bisa menaikkan pendidikan, perekonomian harus baik namun stuntingnya besar. Ini omong besar," tambahnya lagi.‎

Sebelumnya Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Daerah Istimewa Yogyakarta menyebut hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) angka stunting di DIY tahun 2022 mencapai 16,4 persen.

Secara rinci disebutkan, angka stunting tertinggi di Gunungkidul yang mencapai 23,5 persen, disusul Kabupaten Kulon Progo sebesar 15,3 persen.

Kemudian stunting di Kabupaten Sleman sebesar 15 persen, Kabupaten Bantul 14,9 persen dan yang terendah adalah Kota Yogyakarta sebesar 13,8 persen.

Kepala BKKBN DIY, Shodiqin mengatakan penurunan angka stunting yang cukup tinggi dari tahun 2021 ke tahun 2022 terjadi di Kabupaten Bantul yang mencapai lebih dari 4 persen di mana pada tahun 2021 angka stunting di Bantul mencapai 19,1 persen.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved