Perang Rusia Vs Ukraina
Analisis Pakar Militer Scott Ritter, Sponsor Ukraina Keteteran Stok Peluru Artileri
Scott Ritter, ahli militer mantan Marinir AS menyebut Rusia mungkin akan mencapai kemenangan taktis strategis di Ukraina.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Lebih-lebih ada sanksi ekonomi ketat yang didukung AS dan Eropa. Mark Milley seharusnya memperhatikan komentar baru-baru ini oleh Jenderal Angkatan Darat AS Christopher Cavoli, Panglima Tertinggi Sekutu Eropa NATO.
Pada konferensi pertahanan Swedia Januari lalu. Cavoli mencatat skala dan intensitas pertempuran yang sedang berlangsung di Ukraina memperjelas aliansi NATO tak siap menghadapi perang darat skala besar di Eropa.
"Besarnya perang ini luar biasa," kata Cavoli. “Jika kita rata-rata sejak awal perang, hari-hari lambat dan hari-hari cepat, Rusia telah menghabiskan rata-rata lebih dari 20.000 peluru artileri per hari. Skala perang ini tidak sebanding dengan semua pemikiran kita baru-baru ini,” catat Cavoli.
Ia menambahkan, data itu nyata, dan mereka harus menghadapinya. Penekanan Cavoli pada artileri sangat penting dalam menguraikan pernyataan Milley, Ukraina lebih unggul secara operasional dan taktis.
Sementara maksud dari pertemuan ke-10 UCG, yang diadakan pada tanggal 14 Februari, tepat pada Valentine Day, adalah untuk fokus pada penyediaan barang-barang bernilai tinggi ke Ukraina, seperti tank dan pesawat terbang.
Konferensi tersebut dengan cepat dialihkan ke realitas kekurangan kritis amunisi artileri muncul sebagai masalah utama yang dihadapi Ukraina.
Sementara AS telah mengirimkan lebih dari satu juta peluru artileri 155 mm ke Angkatan Darat Ukraina.
Skala pertempuran yang disinggung Jenderal Cavoli berarti Ukraina menembakkan dalam satu hari jumlah peluru yang dapat diproduksi AS dalam satu bulan.
Pada tingkat ini, Ukraina diperkirakan akan kehabisan amunisi pada akhir musim panas. Scott Ritter menekankan ke Mark Milley klausa militer, “jika lawan Anda menembakkan artileri sebanyak Anda, dan Anda kehabisan amunisi, keuntungan operasional dan taktis milik mereka, bukan Anda.”
Sementara pengakuan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg, Ukraina dan NATO sedang menghadapi krisis eksistensial terkait amunisi artileri. Tidak ada solusi siap untuk memperbaiki masalah ini.
Ini mengubah realitas logistik yang mengerikan ketika musim panas datang. Tentara Ukraina akan kehilangan kemampuan untuk melawan pasukan Rusia.
Scott Ritter menyebutkan, dua dekade fokus tunggal pada pertempuran intensitas rendah di Irak dan Afghanistan telah menghentikan pertumbuhan lini produksi AS dan Eropa untuk amunisi artileri.
Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk memulai jalur produksi baru. Industri pertahanan swasta pun mungkin enggan melakukannya tanpa kontrak jangka Panjang, mengingat aspek bantuan NATO ke Ukraina dari waktu ke waktu.
Sementara itu, industri pertahanan Rusia sedang bekerja keras. Tidak hanya memproduksi amunisi dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi tingkat pengeluarannya yang luar biasa di Ukraina, tetapi juga membangun stok yang cukup untuk memasok militer Rusia yang berkembang.
Kekuatan militer tentara Rusia diperkirakan akan tumbuh menjadi lebih dari 1,5 juta di tahun berikutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Inggris-dan-Sekutu-Nato-Kirim-Howitzer-dan-Ribuan-Peluru-ke-Ukraina.jpg)