Perang Rusia Vs Ukraina

Putin : Rusia Kembali Hadapi Nazisme Lewat Simbol Tank Jerman di Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Rusia kini nyata-nyata menghadapi kembali Nazisme sebagaimana disimbolkan kehadiran tank Jerman di Ukraina.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
SPUTNIKNEWS
Tentara Merah Soviet mendorong gerobak meriam di kota Leningrad yang terkepung selama 872 hari oleh pasukan Nazi Jerman. 

Mereka ada di parit-parit dingin di tepi kanan Sungai Don. Deru artileri yang menghantam membangunkan mereka dari tidur.

Menjelang makan siang, Komandan Petre Dumitrescu melapor kepada pimpinan Grup Angkatan Darat Selatan, tidak mungkin mencegah musuh menyeberangi sungai.

Sehari kemudian, kelompoknya dihancurkan oleh serangan tank besar-besaran. Dua minggu kemudian, praktis mereka sudah tidak ada lagi.

Pada saat itu, pasukan Soviet dari Front Barat Daya di bawah komando Nikolai Vatutin memulai bagian mereka dari Operasi Uranus.

Serangan itu menghasilkan kekalahan strategis besar pertama bagi negara-negara poros – awal dari akhir.

Bagi Sekutu, pertempuran Stalingrad akan lama berdiri sebagai simbol kekuatan militer dan kejeniusan militer Rusia.

Apa kesalahan utama dari komando Jerman? Apa metode perang revolusioner yang digunakan para jenderal Soviet selama pertempuran Stalingrad?

Musim gugur 1942 dianggap sebagai titik balik dalam Perang Dunia II. Serangan kekuatan Axis yang tampaknya tanpa henti dan perebutan wilayah dan sumber daya baru mereka akhirnya diakhiri di semua teater.

Pada Desember, keunggulan strategis telah beralih ke pihak Sekutu. Setelah ini, hanya mereka yang akan mendikte jalannya perang, dan Jerman serta Jepang hanya bisa bereaksi.

Inggris mengklaim kemenangan di palagan Mesir dekat El Alamein pada 24 Oktober, memicu segalanya.

Saat itu Bernard Montgomery berhasil mengalahkan Rubah Gurun Jenderal Erwin Rommel dan Korps Afrikanya, yang kelelahan karena kekurangan pasokan.

Hal ini mengakhiri upaya Jerman untuk menginvasi Mesir dan memblokir Terusan Suez, yang akan memperumit situasi Inggris secara signifikan.

Sebab negara pulau itu sangat bergantung pada makanan dan sumber daya yang dipasok oleh koloninya.

Dua minggu kemudian, Inggris di Afrika Utara sudah didukung Amerika di barat, yang sedang melakukan Operasi Obor.

Ini operasi pendaratan pasukan skala besar di Maroko dan Aljazair, yang secara resmi berada di bawah kendali pemerintah Prancis pro-Hitler Vichy.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved