Berita Sleman Hari Ini

Musim Hujan, Kualitas Hasil Panen Cabai di Sleman Menurun

Musim hujan yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir memberikan dampak terhadap penurunan kualitas hasil panen cabai.

Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Neti Istimewa Rukmana
Petani Cabai di Padukuhan Pundong V, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Slemet Iswanto (30) sedang memetik cabai, Kamis (26/1/2023). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Musim hujan yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir memberikan dampak terhadap penurunan kualitas hasil panen petani cabai di Kabupaten Sleman

Hal itu dirasakan olah seorang petani cabai di Padukuhan Pundong V, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman , Daerah Istimewa Yogyakarta , Slemet Iswanto (30).

Pasalnya, dari 2.000 pohon cabai yang ia tanam, hanya bisa menghasilkan 80 kilogram cabai dalam satu kali panen.

"Kalau tidak musim hujan, biasanya saya bisa panen lebih dari 1 kuintal atau lebih dari 100 kilogram. Karena kalau cuaca hujan gini, banyak cabai yang patek atau busuk, jadi hasil panen menurun," jelasnya kepada wartawan saat ditemui di Padukuhan Pundong V, Kamis (26/1/2023).

Baca juga: Jelang Perayaan Tahun Baru Imlek, Harga Cabai Rawit Setan di Pasar Borobudur Magelang Turun

Tidak hanya itu saja, beberapa pohon cabai yang Slemet tanam, baik itu jenis pohon cabai rawit merah maupun pohon cabai merah keriting banyak yang mati.

"Kalau hujan terus kan, air di dalam tanahnya ada banyak. Jadi, becek juga di area tanamnya. Belum lagi banjir karena air di selokan meluap. Makanya, pohon-pohon cabai banyak yang mati juga," kata dia.

Walau begitu, untuk urusan jual beli produk, Slamet tetap mengutamakan kualitas hasil panennya.

"Saya kalau jual ke pasar lelang pasti yang bagus-bagus. Kalau yang busuk atau kering gini pasti enggak saya jual, karena takut nanti harga jualnya bisa menurun," urainya.

Di samping itu, adanya penurunan kualitas hasil panen memberikan dampak perubahan harga jual cabai yang cenderung fluktuatif di pasaran.

"Harga jual cabai rawit merah sekarang itu dikisaran Rp30 ribu-Rp50 ribu per kilogram. Sedangkan, cabai merah keriting sekitar Rp25 ribu. Ya masih standar lah harga segitu," beber Slemet.

Baca juga: Pemkab Kulon Progo Jaga Stabilitas Beras dan Cabai untuk Antisipasi Inflasi

Biaya Bercocok Tanam Cabai 

Disampaikannya, biaya bercocok tanam cabai tidak lah murah.

Sebab, dalam satu kali masa tanam setidaknya membutuhkan total pupuk sebanyak dua kuintal.

Sedangkan, harga pupuk per kilogramnya sebesar Rp20 ribu.

"Biaya perawatan tanaman cabai lumayan mahal ya, karena harus dikasih pupuk dan pestisida. Apalagi saya kan pakai pupuk non subsidi, karena KTP saya bukan dari Sleman. Makanya saya tidak bisa beli pupuk subsidi. Jadi, perawatannya lebih mahal," ujar Slemet.

Melalui hal itu, Slemet berharap kepada pemerintah untuk dapat membantu menjaga stabilitas harga pupuk di pasaran. 

"Harapannya, ya harga pupuk jangan naik-naik terus," pintanya.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved