Perang Rusia Vs Ukraina

Menlu Jerman : Jerman Sedang Berperang Melawan Rusia

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock mengatakan Jerman dan negara-negara Eropa sesungguhnya sedang berperang melawan Rusia di Ukraina.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
www.prezydent.pl/WikipediaCommon
UNI EROPA - Suasana sidang Komisi Uni Eropa di Lisabon, Portugal. Negara-negara Uni Eropa sepakat mengurangi dan akan menghentikan impor gas dari Rusia menyusul konflik Ukraina. 

TRIBUNJOGJA.COM, BRUSSEL – Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock mengatakan Jerman dan negara-negara Eropa sesungguhnya sedang berperang melawan Rusia.

Pernyataan itu muncul saat Annalena Baerbock terlibat debat dengan rekan anggota parlemen Uni Eropa yang berpolemik terkait pengiriman tank tempur ke Kiev

Annalena Baerbock dalam posisi garis keras mendukung pengiriman tank itu, dan jadi pendukung kuat Ukraina melawan Rusia.

Pemerintah Jerman secara resmi akhirnya memutuskan akan mengirim 14 unit tank tempur utama Laopard 2 ke Ukraina. Pengiriman akan dilakukan dalam tiga bulan ke depan.

Pejabat AS dan Uni Eropa sebelumnya selalu berusaha keras mengklaim mereka bukan pihak dalam konflik di Ukraina.

“Karena itu saya sudah katakan di hari-hari terakhir – ya, kita harus berbuat lebih banyak untuk mempertahankan Ukraina. Ya, kami juga harus berbuat lebih banyak pada tank,” kata Baerbock dalam debat di Majelis Parlemen Dewan Eropa (PACE), Selasa (24/1/2023) waktu setempat.

“Tetapi bagian yang paling penting dan krusial adalah kita melakukannya bersama dan kita tidak saling menyalahkan di Eropa, karena kita berperang melawan Rusia dan bukan melawan satu sama lain,” kata Baerbock.

Baca juga: Menhan Jerman Rontok Ditekan Publik, Akhirnya Minta Diberhentikan

Baca juga: Jerman Resmi Umumkan Akan Kirim 14 Tank Tempur Utama Leopard ke Ukraina

Baca juga: Boris Pistorius Akan Lebih Galak Bawa Militer Jerman ke Perang Ukraina

Tank Leopard dioperasikan Angkatan Bersenjata Jerman atau Bundeswehr. Menghadapi perubahan peta politik dan konflik terkini, Jerman mereformasi militernya dari pasif menjadi lebih agresif secara anggaran maupun kemampuan persenjataannya.
Tank Leopard dioperasikan Angkatan Bersenjata Jerman atau Bundeswehr. Menghadapi perubahan peta politik dan konflik terkini, Jerman mereformasi militernya dari pasif menjadi lebih agresif secara anggaran maupun kemampuan persenjataannya. (Bundeswehr)

Sementara Kanselir Olaf Scholz bersikeras Jerman harus mendukung Ukraina tetapi menghindari konfrontasi langsung dengan Rusia, mitra koalisinya Baerbock telah mengambil posisi lebih keras.

Menurut media Jerman, partai Baerbock yaitu Partai Hijau - mendukung pengiriman tank Leopard 2 ke Kiev, dan akhirnya berhasil menekan Scholz untuk menyetujuinya.

Menteri Pertahanan Christine Lambrecht yang enggan mengirim tank ke Ukraina terpaksa mundur karena tekanan dari berbagai kelompok politik.

Ini bukan pertama kalinya Baerbock membuat gelombang ketegangan dengan posisinya dalam konflik.

Dia mengatakan pada pertemuan UE di Praha Agustus 2022, dia bermaksud untuk memenuhi janjinya ke Ukraina tidak peduli apa yang dipikirkan pendukungnya di Jerman.

Mengutip kata-kata Baerbock pada Rabu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan barat terus mengakui mereka telah merencanakan konflik selama bertahun-tahun.

“Jika kita menambahkan ini pada pengungkapan Merkel, mereka memperkuat Ukraina dan tidak mengandalkan perjanjian Minsk,” kata Zakharova.

“Maka kita berbicara tentang perang melawan Rusia yang telah direncanakan sebelumnya. Jangan katakan nanti kami tidak memperingatkan Anda,” desak Zakharova.

Mantan kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan kepada media Jerman pada awal Desember 2022, gencatan senjata 2014 yang ditengahi Berlin dan Paris sebenarnya merupakan taktik belaka.

Mereka ingin memberi Ukraina waktu yang berharga untuk meningkatkan kemampuan militernya. Mantan Presiden Prancis Francois Hollande telah mengkonfirmasi fakta yang dikemukakan Merkel.

Sementara pemimpin Ukraina saat itu, Pyotr Poroshenko, juga mengakuinya secara terbuka.

“Operasi Rusia di Ukraina adalah tanggapan paksa dan upaya terakhir terhadap persiapan agresi oleh AS dan satelitnya," klaim mantan presiden Rusia Dmitry Medvedev pada Senin.

Perkembangan lain, Gedung Putih mencermati berbagai potensi bentrokan langsung antara kekuatan NATO-Rusia

Tapi sejauh ini, Washington belum melihat ada indikasi Moskow hendak menyerang blok militer pimpinan AS.

“Negara-negara NATO tidak dalam bahaya diserang Rusia,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby.

Berbicara pada jumpa pers reguler, Kirby ditanya apakah aliansi militer pimpinan AS memiliki cukup pasukan untuk menghalau kemungkinan serangan Rusia di sisi timurnya jika terjadi eskalasi besar dalam konflik Ukraina.

“Yang bisa saya katakan kepada Anda adalah kami sama sekali tidak melihat indikasi (Presiden Rusia Vladimir) Putin memiliki rencana untuk menyerang wilayah NATO,” kata Kirby.

Presiden AS Joe Biden menganggap serius komitmen Pasal 5 Pakta NATO. Dia mengacu pada prinsip serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap seluruh aliansi.

Kirby mencatat Washington telah mengerahkan 20.000 tentara tambahan ke Eropa, sehingga jumlah totalnya menjadi 100.000.

Dia menambahkan NATO yakin mereka memiliki kemampuan, energi, bakat, tenaga kerja, sumber daya untuk memenuhi komitmen Pasal 5 Pakta NATO.

Rusia secara konsisten menggambarkan kehadiran militer AS di sayap timur NATO sebagai ancaman.

Pada akhir Oktober, Sekretaris Pers Kremlin Dmitry Peskov memperingatkan semakin dekat pasukan Amerika ke perbatasan, semakin besar bahaya dihadapi Rusia.

Kirby juga mengatakan AS memperhatikan garis merah yang ditarik oleh Moskow di Ukraina. “Kami tidak menerima begitu saja ketika mereka mengatakannya. Kami tidak meremehkan,” katanya.

Pada musim gugur, Kementerian Luar Negeri Rusia memperingatkan Washington pengiriman senjata jarak jauh ke Kiev akan melewati garis merah.

Amerika akan dianggap jadi pihak langsung dalam konflik. Pada Selasa, Dmitry Polyansky, Deputi Perwakilan Tetap Pertama Moskow untuk PBB, menganggap barat mengabaikan peringatan Moskow.

Hari berikutnya, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan semua pembicaraan tentang garis merah telah menjadi masa lalu.(Tribunjogja.com/RussiaToday/xna)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved