Perang Rusia Vs Ukraina
Dmitry Medvedev Ingatkan Bumerang Ukraina bagi AS dan Sekutunya
Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev memperingatkan, bantuan terus menerus barat ke Ukraina akan jadi bumerang bagi AS dan sekutunya.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, MOSKOW – Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan aliran bantuan militer yang terus-menerus ke Kiev jelas menunjukkan barat ingin menghancurkan.
Ia memperingatkan, upaya pengiriman senjata dan dana tersebut pada akhirnya dapat menjadi bumerang bagi AS dan sekutunya.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia itu mengomentari pertemuan para Menhan NATO di pangkalan udara Ramstein di Jerman. Barat berjanji untuk terus mendukung Kiev.
“Pertemuan di Ramstein dan persenjataan berat ke Kiev tidak diragukan musuh kita mencoba melemahkan kita untuk waktu yang tak terbatas, atau menghancurkan kita,” tulis Medvedev.
Namun, memperpanjang permusuhan di Ukraina pada akhirnya dapat mengarah pada munculnya blok militer baru yang menyatukan negara-negara yang muak dengan Amerika.
“Ini selalu terjadi dalam sejarah umat manusia selama perang panjang. AS akhirnya akan meninggalkan Eropa lama dan apa yang tersisa dari orang Ukraina yang malang, dan dunia akan kembali ke keseimbangan sekali lagi," kata Medvedev.
Ia memperingatkan mungkin sudah terlambat menyadari masalah ini, sebelum ini terjadi.
Baca juga: Kirim Ranpur Bradley ke Ukraina, AS Tunjukkan Diri Tak Ingin Solusi Damai
Baca juga: Prancis Pasok Tank AMX-10, AS Akan Kirim Ranpur Bradley ke Ukraina
Baca juga: Yunani Kirim Ranpur BMP-1 ke Ukraina, Ditukar Marder dari Jerman
Moskow telah berulang kali mendesak kolektif barat untuk berhenti memompa Ukraina dengan senjata.
Mempertahankan kebijakan itu hanya akan memperpanjang permusuhan daripada mengubah hasil akhir.
Pejabat tinggi Rusia telah berulang kali mencirikan apa yang terjadi sebagai perang proksi antara Rusia dan aliansi NATO yang dipimpin AS, bukan hanya konflik dengan Ukraina.
Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari 2022, mengutip kegagalan Kiev untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk 2014.
Perjanjian ini dirancang memberikan status khusus Donetsk dan Lugansk di dalam negara Ukraina.
Protokol, yang ditengahi oleh Jerman dan Prancis, pertama kali ditandatangani pada 2014.
Mantan Presiden Ukraina Pyotr Poroshenko sejak itu mengakui tujuan utama Kiev adalah menggunakan perjanjian untuk mengulur waktu dan “menciptakan angkatan bersenjata yang kuat.”
Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Francois Hollande telah menguatkan pengakuan tersebut.
Mereka menyatakan perjanjian Minsk tidak pernah dimaksudkan untuk benar-benar dipenuhi tetapi hanyalah taktik untuk mengulur waktu bagi Ukraina untuk membangun militernya.
Tragedi Global
Sementara juru bicara Parlemen Rusia, Vyacheslav Volodin juga mengingatkan, sebuah tragedi global dapat terjadi pada umat manusia jika barat terus memasok senjata ke Ukraina.
Vyacheslav Volodin menyarankan pasukan Moskow dapat membalasnya menggunakan senjata yang lebih kuat, jika wilayahnya terancam.
Lewat saluran Telegramnya, Volodin mengatakan, jika senjata dari NATO digunakan untuk menyerang kota-kota sipil dan mencoba merebut wilayah Rusia, Moskow akan menanggapi lebih kuat.
Anggota parlemen Rusia itu melanjutkan berpendapat pejabat barat harus menyadari tanggung jawab mereka untuk mencegah skenario seperti itu.
“Dengan mempertimbangkan keunggulan teknologi senjata Rusia, politisi asing yang membuat keputusan seperti itu perlu memahami: ini bisa menjadi tragedi global yang akan menghancurkan negara mereka,” Volodin memperingatkan.
Para pemimpin Ukraina bersikeras mendapatkan kembali kendali atas semua wilayah yang berada dalam perbatasan negara yang didirikan setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991.
Kiev mengatakan siap untuk merebut kembali wilayah tersebut dengan paksa jika Moskow menolak untuk melepaskannya.
Krimea menjadi bagian dari Rusia setelah referendum pada tahun 2014, sementara empat wilayah lainnya mengikuti tahun lalu.
Pada Rabu, New York Times, melaporkan pemerintahan Biden mempertimbangkan memberi Ukraina kemampuan serangan yang diperlukan untuk mencapai target di Krimea.
Tepat sebelum pertemuan Ramstein pada 20 Januari, AS mengumumkan paket bantuan pertahanan baru untuk Ukraina senilai $2,5 miliar.
Ini termasuk, antara lain, kendaraan tempur infanteri Bradley, pengangkut personel lapis baja Stryker, ranpur taktis Humvee, serta 20.000 butir peluru artileri reguler dan 600 butir peluru 155 mm berpemandu presisi.
Selain itu, Washington berjanji untuk memasok Kiev dengan lebih banyak rudal untuk sistem roket peluncuran ganda HIMARS M142 dan MLRS M270.
Awal bulan ini Inggris mengkonfirmasi rencana untuk menyediakan Ukraina dengan sejumlah tank tempur utama Challenger 2.
Namun, pendukung Ukraina yang berkumpul di Jerman gagal mengamankan kesepakatan dari Jerman untuk mengirim tank Leopard 2 ke Kiev.
Selain Bradley dan Stryker Amerika, Ukraina akan menerima tank teempur ringan AMX-10 RC Prancis.
Swedia juga telah berjanji untuk memberikan kontribusi yang akan mencakup kendaraan tempur infanteri CB-90 dan howitzer self-propelled Archer.(Tribunjogja.com/RussiaToday/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kendaraan-Tempur-Lapis-Baja-Bradley.jpg)