Perang Rusia Vs Ukraina

Amerika Akan Bantu Ukraina Gempur Semenanjung Krimea

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden mempertimbangkan membantu Ukraina jika akan menyerang sasaran di Semenanjung Krimea.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Wikipedia/Rosavtodor.ru
TARGET - Jembatan Krimea ini termasuk infrastruktur raksasa di Eropa yang dibangun Rusia setelah Semenanjung Krimea bergabung Federasi Rusia pada 2014. 

TRIBUNJOGJA.COM, WASHINGTON – Pemerintah AS dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk memberi Ukraina senjata yang diperlukan untuk menargetkan sasaran di Semenanjung Krimea.

Wilayah ini telah terbukti berperan penting bagi operasi Rusia selama operasi militer khusus yang sedang berlangsung.

Pemerintah percaya posisi Kiev dalam negosiasi di masa depan akan diperbaiki jika militer Ukraina dapat mengancam kendali Rusia atas Krimea.

Meski demikian langkah tersebut dapat meningkatkan risiko eskalasi konflik, karena bisa memantik kemarahan Moskow dan menaikkan skala pertempuran.

Laporan ini dipublkasikan New York Times, Rabu (18/1/2023) waktu setempat, dan dilansir secara luas media Rusia, Kamis (19/1/2023).

Para pejabat pemerintahan Presiden Joe Biden dilaporkan berdiskusi dengan elite Ukraina tentang penggunaan senjata yang dipasok AS.

Termasuk Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) dan kendaraan tempur Bradley, untuk melindungi target seperti jembatan darat utama yang menghubungkan Krimea dengan Rusia.

Baca juga: Terkuak Intel Inggris Siapkan Plot Bom Jembatan Krimea di Tengah Perang Rusia Ukraina

Baca juga: Rusia Bombardir Ukraina dengan 83 Rudal, Putin Sebut Balasan Terhadap Peledakan Jembatan Krimea

Baca juga: Rusia Pindahkan Sistem Pertahanan Udara S-300 ke Krimea

Pemerintahan Biden sejauh ini enggan memberikan rudal jarak jauh kepada Ukraina yang dibutuhkan Kiev untuk menyerang Krimea.

Washington masih takut langkah seperti itu dapat memprovokasi Rusia dan memperluas konflik, menurut laporan NYT.

Laporan Times muncul di tengah perkembangan sebelumnya yang menunjukkan pemerintahan Biden akan mengumumkan paket bantuan militer pada Jumat mencakup kendaraan Stryker selain berbagai artileri dan amunisi.

Pengerahan Strykers akan menandai pertama kalinya Departemen Pertahanan AS menyediakan persenjataan bagi Ukraina.

Laporan sebelumnya menyatakan paket bantuan tidak akan mencakup tank tempur utama Abrams yang sangat diinginkan Ukraina.

Sebuah artikel terpisah oleh Washington Post merinci perkiraan bantuan $2,5 miliar akan mencakup beberapa kendaraan lapis baja Bradley.

Sebelumnya Rabu, Koordinator Dewan Keamanan Nasional AS untuk Komunikasi Strategis John Kirby menyampaikan AS akan mengumumkan gelombang lain bantuan Ukraina pada akhir minggu.

"Paket tambahan bantuan keamanan, senjata tambahan dan kemampuan untuk Ukraina - mungkin paling cepat akhir minggu ini," kata Kirby kepada media AS.

Sampai saat ini, AS telah menyetujui berbagai paket bantuan bernilai miliaran dolar untuk Ukraina, dengan yang terbesar telah diumumkan pada awal Januari.

Baru-baru ini, beberapa negara telah bergabung dengan AS dan mengumumkan paket militer mereka sendiri untuk Ukraina yang membuat kecewa Rusia, yang mengutuk langkah tersebut.

Duta Besar Rusia untuk AS Antonov telah memperingatkan serangan Ukraina di masa depan ke Semenanjung Krimea.

Ia bersikeras negaranya akan merespons dengan paksa setelah Washington menyarankan Kiev dapat menggunakan senjata baratnya untuk menyerang wilayah tersebut.

Ia diminta mengomentari pernyataan baru-baru ini dari juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price, yang bersikeras Krimea masih merupakan wilayah Ukraina.

Rusia telah menguasai wilayah tersebut selama lebih dari satu decade. Antonov memperingatkan retorika militan AS, dengan mengatakan itu risiko eskalasi lebih lanjut.

“Departemen Luar Negeri, melalui pernyataan tidak langsung Krimea adalah Ukraina dan Angkatan Bersenjata Ukraina dapat menggunakan senjata AS untuk melindungi wilayah mereka,” kata Antonov mengutip pernyataan pejabat AS.

“Pada dasarnya itu mendorong rezim Kiev untuk melakukan serangan teroris di Rusia,” lanjut diplomat senior itu Rabu malam.

Selama jumpa pers sebelumnya pada Rabu, Price ditanyai tentang apakah Washington pernah membatasi serangan Ukraina.

Ned Price menjawab, keputusan ini terserah mereka (Ukraina). Kiev menurutnya bebas memilih targetnya sendiri, termasuk di Krimea.

Komentar juru bicara itu mengikuti laporan New York Times yang menunjukkan Gedung Putih bersedia membantu Kiev menyerang semenanjung strategis itu.

Antonov melanjutkan tidak ada bantuan barat yang akan menghentikan operasi militer Moskow. “Kami akan menghancurkan senjata apa pun yang dipasok ke rezim (Presiden Vladimir) Zelensky, baik AS atau NATO,” tegasnya.

“Apakah benar-benar tidak dapat dipahami memompa senjata ke Ukraina, baik itu Amerika atau negara NATO lainnya, hanya akan menyebabkan peningkatan korban sipil dan menciptakan kesulitan tambahan di bekas republik Soviet?” tambah Antonov.(Tribunjogja.com/Sputniknews/xna)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved