Berita Kulon Progo Hari Ini
Ada 2.057 Balita di Kulon Progo Berisiko Stunting, Ini Target Dinkes di 2023
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kulon Progo mencatat, setidaknya ada 2.057 balita di wilayahnya yang berisiko stunting sepanjang 2022.
Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja, Sri Cahyani Putri Purwaningsih
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kulon Progo mencatat, setidaknya ada 2.057 balita di wilayahnya yang berisiko stunting sepanjang 2022.
Karena itu, berbagai upaya disiapkan dalam rangka mempercepat target penurunan angka stunting di tahun ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Sri Budi Utami mengatakan, ribuan balita yang berisiko gizi buruk didapatkan berdasarkan pemantauan dari Dinkes Kulon Progo.
Baca juga: Penetapan Ganti Rugi Sesi 2 Tol Yogya-Bawen di Magelang Rampung, Berakhir di Desa Pabelan
"Selama kurun waktu Januari hingga Desember 2022, ada 2.057 balita yang berisiko stunting," katanya, Selasa (17/1/2023).
Selain itu, lanjut Sri Budi, terdapat sekitar 13,8 persen atau 575 ibu hamil yang terindikasi kekurangan energi kronik (KEK).
Namun secara pasti, penyebab ibu hamil terindikasi KEK belum diketahui.
Akan tetapi, ada beberapa penyebab yang sering terjadi mulai dari asupan makanan ibu hamil kurang, terpapar asap rokok, mengalami infeksi dan cacingan bahkan kekurangan gizi kronis sebelum mengandung si buah hati.
Oleh karenanya, Dinkes Kulon Progo mengupayakan pencegahan stunting dimulai dari calon pengantin yang hendak menikah. Sehingga target percepatan penurunan stunting bisa tercapai di tahun ini.
"Tahun ini (2023), targetnya (stunting) turun 12 persen," ucapnya.
Untuk mencapai target tersebut, Dinkes Kulon Progo memberikan pendampingan konseling kesehatan bagi calon pengantin.
Kemudian pemberian tablet tambah darah bagi calon pengantin, remaja dan ibu hamil (bumil).
Baca juga: Transfer Pemain Masuk LIGA INGGRIS Hari Ini: Talenta Muda Brasil Merapat, MU dan Chelsea 0 Tambahan
Konseling pemberian makan bayi dan anak (PMBA) sekaligus pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita dan bumil yang terindikasi KEK dengan anggaran dari Kementerian Kesehatan dalam bentuk biskuit. Lalu, pemeriksaan kehamilan atau ANC (antenatal care) terpadu bagi bumil.
"Kami juga melakukan terapeuthic feeding centre bagi balita, pemberian obat cacing bagi anak berusia 1-12 tahun serta melakukan skrining penyakit tuberkulosis bagi balita stunting," ucapnya. (scp)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-kulonprogo_20180731_185841.jpg)