Politik Global
Evo Morales : Washington Dalangi Upaya Kudeta di Amerika Latin
Evo Morales, mantan Presiden Bolivia, menuduh AS mendalangi serangkaian upaya kudeta yudisial dan konstitusional di negara Amerika Latin.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, KOTA MEKSIKO - Mantan Presiden Bolivia Evo Morales menuduh kekuasaan di Washington mendalangi serangkaian upaya kudeta di Amerika Latin, termasuk di Brasil, Peru, dan Argentina.
Mantan Presiden Bolivia Evo Morales yang mengasingkan diri dari Bolivia ke Meksiko itu juga menyatakan, AS kini mulai kehilangan hegemoninya di wilayah tersebut.
Dalam sebuah wawancara untuk RIA Novosti, dikutip situs Al Mayadeen, Rabu (11/1/2023), Evo Morales menunjukkan kebijakan Amerika telah gagal.
Ketika ada sebuah ‘kerajaan’ memburuk, ia menggunakan kekerasan, dan ketika ia kehilangan hegemoni, ia menggunakan senjata dan peluru.
Tokoh politik sayap kiri itu menuduh pemerintah AS berada di belakang apa yang disebutnya kudeta yudisial terhadap Wakil Presiden Argentina Christina Kirchner bulan lalu.
Juga penggulingan Presiden Peru Pedro Castillo, dan upaya kudeta gaya Donald Trump baru-baru ini di Brasil terhadap Presiden Luiz Inacio Lula da Silva.
Baca juga: Rusuh di Brasilia, Lula da Silva Minta Kekuatan Federal Bertindak
Baca juga: Presiden Kuba Puji Iran Patahkan Blokade Laut AS Terhadap Venezuela
Baca juga: Presiden Venezuela Nicolas Maduro Tuding Guaido dan Godreau Bersekongkol di Gedung Putih
Evo Morales yang populis, terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya pada November 2019 di bawah tekanan militer.
Peristiwa terjadi menyusul protes berkepanjangan terhadap hasil pemilihan presiden. Morales mengumumkan dia dipaksa mengundurkan diri setelah kudeta yang didukung oleh AS.
Dalam konteks terkait, pemerintah Peru mengatakan telah menolak Evo Morales masuk ke negara itu setelah mundur.
Penguasa di Peru menuduh Morales mencoba mencampuri urusan Peru, yang menghadapi protes menuntut pengunduran diri Presiden Dina Boluarte.
Boluarte mengambil alih kekuasaan setelah 7 Desember 2022 menyusul pengusiran dan penangkapan Presiden Pedro Castillo saat itu.
Tak lama setelah larangan diumumkan, Perdana Menteri Peru Alberto Otarola menyalahkan Morales karena memicu kerusuhan.
"Kami mengamati dengan seksama tidak hanya sikap Tuan Morales, tetapi juga mereka yang bekerja dengannya di Peru selatan," kata Otarola kepada wartawan.
"Mereka sangat aktif dalam mempromosikan situasi krisis," katanya. Di Twitter, Morales akhirnya menanggapi tuduhan itu.
"Sekarang mereka menyerang kami untuk mengalihkan perhatian dan menghindari tanggung jawab atas pelanggaran berat hak asasi manusia saudara-saudara Peru kami," tulisnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/presiden-evo-morales-saat-menghadiri-hari-ulang-tahun-kemerdekaan-ke-193-bolivia_20180809_184204.jpg)