Politik Global
Rusuh di Brasilia, Lula da Silva Minta Kekuatan Federal Bertindak
Presiden Brasil Lula da Silva memerintahkan kekuatan Federal Brasil bertindak mengatasi perusuh, pendukung mantan Presiden Jair Bolsonaro.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, BRASILIA - Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengumumkan keadaan darurat di Distrik Federal Brasilia.
Keputusan diambil setelah ribuan pendukung pendahulunya dari sayap kanan, Jair Bolsonaro, menyerbu Gedung Kongres, Mahkamah Agung, dan Istana Kepresidenan Planalto.
Pemberontakan dan kerusuhan di Brasilia ini mirip dengan kejadian saat Donald Trump membiarkan pendukungnya menyerbu Capitol Hill, setelah tak menerima kekalahan dari Joe Biden.
Lua da Silva, pemimpin sayap kiri, yang dilantik minggu lalu, menunjuk Menteri Kehakiman Ricardo Garcia Capelli untuk memimpin intervensi kekuatan federal.
Perintah Lula memberi Capelli kekuatan untuk meminta badan sipil dan militer untuk sarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan intervensi.
Setelah bentrokan berjam-jam, polisi anti huru hara yang menggunakan gas air mata dan meriam air berhasil menguasai kembali gedung-gedung pemerintah pada Minggu malam waktu setempat.
Pihak berwenang mengumumkan setidaknya 300 orang ditahan. Menteri Kehakiman memperingatkan penangkapan akan berlanjut.
Penyelidik mencoba mengidentifikasi semua orang yang terlibat dalam apa yang dia sebut sebagai tindakan terorisme dan percobaan kudeta.
Baca juga: Analisis Pakar : Kemenangan Lula da Silva di Brazil Pukulan bagi Ambisi Amerika
Baca juga: Lula da Silva Dilantik Jadi Presiden Brasil, Siap Kerjasama dengan Rusia
Baca juga: Lula da Silva Batalkan Swastanisasi 8 BUMN Brasil, Selamatkan Hutan Amazon
Namun, perintah darurat tetap berlaku hingga akhir bulan. Cakupan perintah tersebut terbatas pada Distrik Federal Brasilia.
Tujuannya, mengakhiri gangguan serius terhadap ketertiban umum di Negara Bagian di Distrik Federal, yang ditandai dengan tindakan kekerasan dan invasi gedung-gedung publik.
Guna mencapai tujuan itu, Capelli dapat meminta bantuan keuangan, teknologi, struktur, dan sumber daya manusia Distrik Federal, tidak terbatas, militer dan polisi, tapi sesuai kebutuhan.
Pada pidato nasionalnya, Lula mengancam semua yang memicu kekacauan akan membayarnya dengan proses hukum.
Lula berjanji mengungkap siapa pemodal dari kerumunan pengunjuk rasa, yang sebagian besar mengenakan pakaian yang serasi dengan warna dari bendera Brasil.
Mereka menerobos barikade dan masuk ke gedung-gedung pemerintah. Sebagian merusak property dan menyerang apparat keamanan.
Lula mencela para demonstran sebagai pengacau dan fasis, menuduh Bolsonaro memenuhi kepala mereka dengan ekstremisme.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Lula-da-Silva.jpg)