Perang Rusia Vs Ukraina

Inggris Alami Resesi Terpanjang dan Paling Lemah di Negara G7

Inggris menghadapi resesi terpanjang dan pemulihan terlemah di antara negara G7 sepanjang 2023. Resesi bisa mencapai akhir 2024.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
DOK. Getty Images
Pemandangan di London, Inggris 

TRIBUNJOGJA.COM, MOSKOW - Inggris akan menghadapi salah satu resesi terpanjang dan pemulihan terlemah di antara negara-negara G7 sepanjang 2023.

Kondisi ini disebabkan efek inflasi jangka panjang dari pandemi dan konflik di Ukraina. Ekonom terkemuka Inggris mengatakan hal itu dikutip media AS dan Russia Today, Selasa (3/1/2023).

Menurut ekonom, Inggris akan menghadapi periode kejutan inflasi yang akan memaksa pemerintah untuk melakukan kebijakan fiskal yang ketat sepanjang 2023.

"Kombinasi penurunan upah riil, kondisi keuangan yang ketat, dan koreksi pasar perumahan sangat buruk," klaim Kallum Pickering, ekonom senior di Bank Berenberg.

Perekonomian Inggris luar biasa terkena lonjakan harga energi dan suku bunga di seluruh dunia karena permintaan negara untuk gas hampir tidak sesuai dengan kapasitas penyimpanan.

Inggris telah mengalami krisis ekonomi selama beberapa bulan terakhir. Menurut Bank of England, ekonomi Inggris telah memasuki resesi yang diperkirakan akan berlangsung hingga paruh kedua 2024.

Baca juga: Gejolak Minyak Dunia Dampak Perang Rusia Ukraina

Baca juga: Ini Balasan Putin Atas Kebijakan Pembatasan Harga Minyak Rusia

Baca juga: Kehilangan Pasokan Gas Rusia, Eropa Bisa Runtuh Mulai Musim Dingin Tahun Ini

Dalam situasi sulit ini, Inggris telah menerapkan larangan impor gas alam cair (LNG) Rusia yang mulai berlaku pada 1 Januari 2023.

Kantor Luar Negeri, Persemakmuran dan Pembangunan mengkonfirmasi pada Minggu (1/1/2023) dalam sebuah posting di Twitter.

Kantor Luar Negeri Inggris telah mengumumkan rencana untuk menghentikan pasokan LNG Rusia pada akhir Oktober.

Langkah itu bertujuan membantu London mengurangi ketergantungannya pada energi Rusia.

Pada Sabtu, kantor itu mengatakan Inggris mendukung negara-negara di dunia untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil Rusia.

Ini menjelaskan langkah tersebut mengikuti operasi militer Moskow di Ukraina, dan ditujukan untuk memotong pendapatan energi negara.

Pada 2021, Inggris mengimpor 3,12 miliar meter kubik gas Rusia, yang menyumbang sekitar 4 persen total konsumsi negara. Rata-rata, Inggris mengkonsumsi sekitar 75 miliar meter kubik gas per tahun.

Pada Juni, Kwasi Kwarteng, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Bisnis dan Energi Inggris, mengatakan negara tersebut menerima sangat sedikit gas dari Rusia, bahkan impor tersebut turun 75 persen dibandingkan 2021.

London juga mengatakan akan menghentikan impor minyak dan produk minyak Rusia – seperti diesel – pada akhir 2021.

Pengumuman itu dibuat pada akhir Februari, tak lama setelah konflik militer antara Rusia dan Ukraina dimulai.

Menurut Kantor Statistik Nasional Inggris, negara yang terkena sanksi adalah pemasok minyak sulingan terbesar di Inggris, menyediakan 24 persen total pasokan negara.

Pada saat yang sama, pangsa impor minyak mentah dari Rusia mencapai 5,9 persen pada tahun 2021.

Data yang dilacak oleh kantor tersebut menunjukkan pada 2022, AS menjadi sumber pasokan LNG terbesar ke Inggris.

Pada 2023, London berencana mengganti LNG Rusia dengan pasokan dari Qatar dan Azerbaijan.

Meski tidak terkait langsung krisis ekonomi Inggris, sebuah penelitian menunjukkan anak usia 16-34 tahun di Inggris lebih sering menyebut masalah kesehatan mental sebagai alasan tidak aktif.

Masalah kesehatan mental membuat penduduk muda Inggris kehilangan pekerjaan pada tingkat rekor, pada saat negara berjuang dengan krisis ekonomi yang memburuk.

Menurut data yang dikumpulkan Kantor Statistik Nasional (ONS), kaum muda usia kerja di negara itu menderita masalah kesehatan jangka panjang yang membuat mereka kehilangan pekerjaan pada tingkat yang semakin mengkhawatirkan.

Laporan ONS menunjukkan ada peningkatan 29 persen pada usia 16-24 tahun yang menyebutkan penyakit jangka panjang sebagai alasan tidak aktif secara ekonomi.

Ada lonjakan 42 persen di antara orang berusia 25-34 tahun yang mengatakan hal yang sama. Data tersebut dilaporkan kuartal kedua 2022, dibandingkan dengan periode yang sama sebelum pandemi.

Laporan tersebut menunjukkan pekerja termuda menghadapi resesi dan upah yang gagal mengimbangi inflasi dua digit.

Stres terkait pekerjaan terdaftar sebagai pendorong terbesar ketidakaktifan di antara orang berusia 50-54 tahun.

Statistik menunjukkan masalah kesehatan mental secara keseluruhan mencapai sekitar 600.000 orang yang tidak aktif secara ekonomi di semua kelompok umur.

Menurut Louise Murphy, seorang ekonom di Resolution Foundation, kesehatan di kalangan generasi muda Inggris sudah memburuk “cukup dramatis” sebelum pandemi.

Tapi masalahnya menjadi lebih akut sejak itu, katanya.

“Tidak diragukan lagi bahwa Covid telah mempercepat masalah kesehatan mental pada kelompok usia ini,” kata CEO Sane, Marjorie Wallace, seperti dikutip Bloomberg.

“Mereka telah keluar dari sekolah, berpotensi terpapar suasana rumah tangga yang retak di rumah, dan menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial,” katanya.(Tribunjogja.com/RussiaToday/Bloomberg/xna)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved