Ini Balasan Putin Atas Kebijakan Pembatasan Harga Minyak Rusia

Larangan penjualan minyak mentah dan produk minyak Rusia ini akan mulai efektif berlaku pada 1 Februari mendatang.

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Dmitry AZAROV / SPUTNIK / AFP
Presiden Vladimir Putin 

TRIBUNJOGJA.COM, MOSKWA – Presiden Rusia Vladimir Putin resmi melarang penjualan minyak mentah dan produk minyak yang diproduksi negaranya ke negara yang menerapkan pembatasan harga.

Keputusan Putin ini dituangkan dalam dekrit yang ditanda tanganinya pada Selasa (27/12/2022).

Larangan penjualan minyak mentah dan produk minyak Rusia ini akan mulai efektif berlaku pada 1 Februari mendatang.

“Pengiriman minyak dan produk minyak Rusia ke entitas dan individu asing dilarang, dengan syarat bahwa dalam kontrak untuk pasokan ini, penggunaan mekanisme penetapan harga maksimum secara langsung atau tidak langsung dipertimbangkan,” bunyi dekrit tersebut seperti yang dikutip dari Kompas.com.

“Larangan yang ditetapkan berlaku untuk semua tahap pasokan hingga pembeli akhir,” sambung dekrit itu.

Dekrit yang dikeluarkan oleh Putin ini merupakan respon atas keputusan Uni Eropa, G7, dan Australia yang sepakat membatasi harga minyak lintas laut Rusia sebesar 60 dollar AS per barel.

Kesepakatan itu mulai berjalan sejak 5 Desember 2022 lalu.

Baca juga: Media Jerman Andil Besar Dorong Militansi dan Konfrontasi Melawan Rusia

Sejak kesepakatan itu dimulai, banyak negara yang menunggu langkah dari Rusia.

Sebab, Rusia merupakan pengekspor minyak terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi.

Jika penjualan minyak Rusia mengalami gangguan, imbasnya akan menengaruhi pasokan energi global.

Ekspor minyak mentah akan dilarang mulai 1 Februari, tetapi tanggal larangan produk minyak akan ditentukan oleh Pemerintah Rusia dan bisa jadi setelah 1 Februari.

Beberapa analis mengatakan, pembatasan tersebut akan berdampak kecil pada pendapatan minyak yang saat ini diperoleh Moskwa.

Namun, Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengatakan pada Selasa bahwa defisit anggaran Rusia bisa lebih besar dari yang direncanakan sebesar 2 persen dari PDB pada 2023.

Hal tersebut karena pembatasan harga minyak akan menekan pendapatan dari sektor ekspor.

Ini meripakan rintangan fiskal tambahan untuk Moskwa karena sudah menghabiskan banyak uang untuk kampanye militernya di Ukraina.

Minyak Ural Rusia diperdagangkan di atas 56 dollar AS per barel hari Selasa, di bawah level batas harga. (*)

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved