Dokter Spesialis Syaraf RS Bethesda Ingatkan Kewaspadan Stroke di Usia Muda
Penyakit stroke bisa menyerang segala usia, tetapi tren saat ini menunjukan bahwa penyakit tersebut mudah menyerang usia muda atau di bawah 45 tahun.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Kurniatul Hidayah
"Lingkar perut laki-laki enggak boleh lebih dari 90 centimeter. (Kalau) perempuan, tidak boleh lebih dari 80 centimeter. Itu lingkar perut universal," paparnya.
Linggar perut untuk mengetahui tingkat obesitas seseorang tidak berpengaruh terhadap tinggi badan seseorang.
"Sekarang itu, faktanya mengatakan yang tidak boleh itu kegemukan sentral. Jadi, boleh gemuk tapi rata. Yang enggak boleh itu buncit. Jadi kalau hanya yang gede itu lingkar perutnya juga berisiko tinggi (terkena obesitas)," ucap Dr. Rizaldy.
"Risiko stroke yang mengemuka juga adalah sleep apnea. Jadi, orang yang pada waktu tidur itu mendengkur juga memiliki risiko yang tinggi untuk terkena stroke. Apalagi kalau mendengkur ada periode berhenti nafas," imbuh dia.
Pasalnya, seringkali gejala stroke yang muncul pada waktu tidur maupun bangun tidur. Hal itu terjadi dari adanya tekanan darah yang cenderung naik pada pagi hari.
Maka dari itu, untuk faktor serangan stroke yang bisa dikendalikan harus diimbangi dengan olahraga, hidup sehat maupun diet.
"Pada prinsipnya, karena kita bicara secara universal, maka diet, (konsumsi) rendah garam dan rendah lemak itu harus. Hati-hati dengan garam, apalagi kalau kita makan produk olahan. Fast food, junk food itu boleh makan, tetapi tidak terlalu sering," sarannya.
"Kita jangan makan yang digoreng kalau malam hari. Karena metabolisme kolesterol itu aktifnya malam hari," pesannya.
Baca juga: Amien Rais Bakal Lapor Bawaslu Setelah KPU Tak Meloloskan Partai Ummat sebagai Peserta Pemilu 2024
Ia pun menyarankan kepada setiap orang untuk mengkonsumsi gizi yang seimbang, mengkonsumsi banyak buah dan sayur, enyahkan rokok, hindari stres, awasi tekanan darah, kolesterol dan gula, teratur berolahraga serta mengkonsumsi air putih yang cukup.
Dr. Rizaldy turut menyinggung mengenai orang yang sedang merokok. Ia menyarankan kepada setiap orang yang merokok untuk dapat menguranginya secara bertahap sampai berhenti. Karena apabila orang berhenti merokok secara mendadak, maka dapat membuat tensi orang tersebut naik.
"Ada zat di otak yang sangat rangsang, namanya dopamin kalau kita merokok. Dopamin itu memberikan rasa yang nyaman dan senang di otak. Sehingga, ketika seseorang yang sudah merokok cukup lama harus berhenti, maka kadar dopaminnya langsung anjlok. Nah itu biasanya enggak karu-karuan," pungkasnya. (Nei)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Dokter-Spesialis-Syaraf-RS-Bethesda-sekaligus-anggota.jpg)