Dokter Spesialis Syaraf RS Bethesda Ingatkan Kewaspadan Stroke di Usia Muda
Penyakit stroke bisa menyerang segala usia, tetapi tren saat ini menunjukan bahwa penyakit tersebut mudah menyerang usia muda atau di bawah 45 tahun.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penyakit stroke bisa menyerang segala usia, tetapi tren saat ini menunjukan bahwa penyakit tersebut mudah menyerang usia muda atau di bawah 45 tahun.
Dokter Spesialis Syaraf RS Bethesda sekaligus anggota Ikatan Dokter Indonesia Kota Yogyakarta, Dr. dr. Rizaldy Taslim Pinzon, M.Kes,Sps, mengatakan, berdasarkan data di seluruh dunia dikatakan satu di antara enam orang di seluruh dunia akan terkena stoke selama hidupnya.
Baca juga: INFO BMKG DI Yogyakarta Prakiraan Cuaca Hari Ini Kamis 15 Desember 2022
"Jadi bayangkan kalau di satu ruangan ada enam orang ya. Satu di antara enam orang itu akan terkena stroke. Tren mengatakan, kalau dulu menyerang usia 60 tahun, 70 tahun, gitu ya, tetapi semakin ke sini itu (orang) kena (stroke) semakin muda," paparnya kepada Tribun Jogja saat Bincang Kesehatan Waspada Stroke di Usia Muda dilakukan di Studio 52 Tribun Jogja, Senin (12/12/2022).
Baru-baru ini, Dr. Rizaldy mendapatkan pasien yang berusia 32 tahun. Begitu pula beberapa waktu sebelumnya, ia juga menangani pasien yang berusia 36 serta 38 tahun. Artinya, tren penyakit tersebut memang menyerang usia muda.
Terlebih, apabila seseorang memiliki kelainan pembuluh darah, maka penyakit stroke bisa terjadi pada usia anak-anak.
"Jadi saya punya beberapa pasien itu, kena (stroke) di usia empat tahun, enam tahun. Tapi itu kasus yang sangat jarang, karena bawaan (lahir). Di pembuluhnya dia memang terbentuk jaringan tidak sempurnya," paparnya.
Umumnya, penyakit stroke yang sudah ada sejak lahir dan diimbangi dengan berjalannya waktu serta terdapat trigger atau pencetus, maka dapat berimbas kepada penyakit tersebut.
Sementara itu, mengenai faktor serangan stroke terkadang ada yang tidak bisa dikendalikan dan ada yang bisa dikendalikan.
"Yang tidak bisa dikendalikan itu misalnya usia. Semakin tua usia seseorang, (maka) semakin berisiko. Laki-laki lebih berisiko (terkena stroke). Sedangkan perempuan, kalau sudah usia menopause (risiko terkena stroke sebanding dengan laki-laki)," terang Dr. Rizaldy.
Dikatakannya, untuk perempuan yang belum masuk usia menopause, maka risiko terkena stroke lebih rendah. Pasalnya, terdapat hormon estrogen yang dapat melindungi terjangkitnya penyakit stroke.
Di sisi lain, apabila salah satu atau dua orang tua terkena stroke, maka anak dari orang tua tersebut lebih mudah terkena stoke.
"Karena dia multifaktorial, kita tidak bisa melihat presentase, tetapi bisa juga dilihat dari faktor risiko yang lainnya," beber dia.
Menurutnya, faktor serangan stroke yang bisa dikendalikan yakni keberadaan hipertensi. Orang yang memiliki hipertensi bisa terkena stroke.
"Tapi, bukan semata-mata (faktor serang yang utama adalah) hipertensi. Jadi, hipertensi benar adalah faktor risiko stroke yang utama. Tetapi, tidak selalu pasien yang stroke itu hipertensi, tidak selalu juga pasien yang hipertensi berakhir dengan stroke," ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Rizaldy turut menjelaskan faktor lain yang dapat membuat seseorang terjangkit stroke. Faktor-faktor itu berupa diabetes, kolesterol, darah yang tinggi hingga obesitas.
"Lingkar perut laki-laki enggak boleh lebih dari 90 centimeter. (Kalau) perempuan, tidak boleh lebih dari 80 centimeter. Itu lingkar perut universal," paparnya.
Linggar perut untuk mengetahui tingkat obesitas seseorang tidak berpengaruh terhadap tinggi badan seseorang.
"Sekarang itu, faktanya mengatakan yang tidak boleh itu kegemukan sentral. Jadi, boleh gemuk tapi rata. Yang enggak boleh itu buncit. Jadi kalau hanya yang gede itu lingkar perutnya juga berisiko tinggi (terkena obesitas)," ucap Dr. Rizaldy.
"Risiko stroke yang mengemuka juga adalah sleep apnea. Jadi, orang yang pada waktu tidur itu mendengkur juga memiliki risiko yang tinggi untuk terkena stroke. Apalagi kalau mendengkur ada periode berhenti nafas," imbuh dia.
Pasalnya, seringkali gejala stroke yang muncul pada waktu tidur maupun bangun tidur. Hal itu terjadi dari adanya tekanan darah yang cenderung naik pada pagi hari.
Maka dari itu, untuk faktor serangan stroke yang bisa dikendalikan harus diimbangi dengan olahraga, hidup sehat maupun diet.
"Pada prinsipnya, karena kita bicara secara universal, maka diet, (konsumsi) rendah garam dan rendah lemak itu harus. Hati-hati dengan garam, apalagi kalau kita makan produk olahan. Fast food, junk food itu boleh makan, tetapi tidak terlalu sering," sarannya.
"Kita jangan makan yang digoreng kalau malam hari. Karena metabolisme kolesterol itu aktifnya malam hari," pesannya.
Baca juga: Amien Rais Bakal Lapor Bawaslu Setelah KPU Tak Meloloskan Partai Ummat sebagai Peserta Pemilu 2024
Ia pun menyarankan kepada setiap orang untuk mengkonsumsi gizi yang seimbang, mengkonsumsi banyak buah dan sayur, enyahkan rokok, hindari stres, awasi tekanan darah, kolesterol dan gula, teratur berolahraga serta mengkonsumsi air putih yang cukup.
Dr. Rizaldy turut menyinggung mengenai orang yang sedang merokok. Ia menyarankan kepada setiap orang yang merokok untuk dapat menguranginya secara bertahap sampai berhenti. Karena apabila orang berhenti merokok secara mendadak, maka dapat membuat tensi orang tersebut naik.
"Ada zat di otak yang sangat rangsang, namanya dopamin kalau kita merokok. Dopamin itu memberikan rasa yang nyaman dan senang di otak. Sehingga, ketika seseorang yang sudah merokok cukup lama harus berhenti, maka kadar dopaminnya langsung anjlok. Nah itu biasanya enggak karu-karuan," pungkasnya. (Nei)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Dokter-Spesialis-Syaraf-RS-Bethesda-sekaligus-anggota.jpg)