Politik Global
Analisis Pakar: Memahami Rusuh Iran, Polisi Moral, dan Evolusi Tentang Hijab
Pakar geopolitik Asia Barat dan Timur Tengah Sharmine Narwani membeberkan apa yang sedang terjadi di Iran, dan problemnya tak sesederhana versi barat.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Pertanyaannya adalah ke mana peristiwa baru-baru ini akan membawa Iran, dan apakah sentimen publik tentang jilbab akan ditangani badan pengatur negara, dan bagaimana caranya.
Memahami Otoritas Kekuasaan di Iran
Iran sama sekali bukan karikatur kediktatoran seperti yang sering digambarkan di media arus utama barat.
Tetapi Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tetap menjadi otoritas terakhir dalam hal-hal strategis, tapi hak istimewa yang jarang dia gunakan untuk melawan kritik domestik.
Berbeda dengan pembicaraan nuklir Iran dengan kekuatan barat, Khamenei sepenuhnya mengizinkan pemerintah mantan Presiden Hassan Rouhani untuk melanjutkan agenda negosiasinya.
Tujuannya guna menormalkan hubungan ekonomi dan mengakhiri isolasi Iran yanag sudah berlangsung lama.
Mungkin tidak ada tokoh di Iran yang tercatat sekeras Khamenei, memperingatkan barat tidak akan pernah bisa dipercaya.
Ia menekankan, kekuatan terbesar Iran terletak pada swasembada ekonominya dan kemerdekaan penuh dari dunia global yang didominasi jaringan barat.
Khamenei duduk dan membiarkan pemerintahan Rouhani untuk mengejar kebijakan yang sepenuhnya bertentangan keyakinan nasional terdalamnya.
Tindakan Pemimpin Tertinggi Iran, bagaimanapun, menunjukkan difusi yang sangat nyata yang melekat dalam proses pengambilan keputusan Iran saat ini.
Tidak ada otoritas tunggal di negara itu. Keputusan dibuat secara kolaboratif atau dalam perselisihan yang memanas dan seringkali sangat terbuka yang terjadi di media Iran, debat parlemen, atau di balik pintu tertutup.
Intinya, Iran memiliki tiga pusat kekuatan utama saat ini: Pertama, Pemimpin Tertinggi dan berbagai organ revolusioner negaranya yang mencakup tentara, kepolisian, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), dan pasukan Basij yang berkekuatan jutaan sukarelawan.
Kedua, pemerintah Iran dan lembaga negaranya yang mencakup presiden terpilih, kabinetnya, kementerian negara, dan parlemen.
Pusat ketiga, hawza (seminari) Qom, pusat keagamaan Iran, yang terdiri dari ribuan ulama Syiah, otoritas, dan influencer yang berdampak pada interpretasi agama, tindakan, dan perilaku untuk Republik Islam.
Ketiga pusat kekuasaan tersebut memengaruhi kebijakan negara dengan cara yang berbeda-beda, dan kekayaan mereka semuanya surut dan mengalir pada waktu yang berbeda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pengunjuk-rasa-memegang-potret-Mahsa-Amini-wanita-Iran-yang-meninggal-ditangkap-polisi-moral.jpg)