Mengapa Gempa Cianjur Begitu Merusak? Ini Jawabannya dari Pakar Geologi UGM
Geolog UGM, Dr. Gayatri Indah Marliyani, ST., M. Sc., mengatakan bencana gempa yang baru saja terjadi magnitudonya cukup besar M 5.6 dan hiposenter
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
“Ketika terkena guncangan keras akibat gempa bumi, lapisan tanah dan batuan lepas yang berada pada lereng yang terjal akan mudah bergerak dan longsor,” paparnya.
Bila umumnya pusat gempa yang sering terjadi di tanah air berada di pesisir atau laut lepas, tapi kali ini justru di daratan.
Munculnya pusat gempa di daratan ini diakui Gayatri di pulau Jawa selain sumber gempa yang berada pada zona subduksi juga ada sumber-sumber gempa berupa sesar-sesar aktif yang berada di darat.
Di Jawa, ada banyak sesar aktif yang sudah teridentifikasi dengan baik seperti Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, Sesar Opak, Sesar Baribis, Sesar Kendeng, dan masih banyak lagi.
Adapun aktivitas kegempaan di Jawa bagian barat yang diakibatkan oleh sesar aktif di darat lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Jawa.
Gempa yang terjadi di darat, katanya, biasanya memiliki kedalaman yang dangkal yakni kurang dari 15 km sehingga guncangan akibat gempa tersebut akan dirasakan dengan kuat di permukaan.
“Jika jalur sesar di darat ini dekat dengan wilayah pemukiman, harus diwaspadai,” tegasnya.
Menjawab soal banyaknya jatuhnya korban gempa di Cianjur, menurut Gayatri, salah satu penyebab terbesar jatuhnya korban umumnya tertimpa oleh bangunan rumah, tapi begitu tidak semua rumah warga dibangun dengan metode tahan guncangan gempa.
Untuk menyiasati hal ini, ia menilai pemerintah dan lembaga terkait perlu memetakan sumber gempa dengan baik. Setelah sumber dan karakteristik gempa diketahui, bisa dilakukan perhitungan mengenai besaran dampak.
Luasan area terdampak, kata dia, harus teridentifikasi dengan baik.
Baca juga: LIVE Piala Dunia 2022 Malam Ini di TV SCTV Moji Vidio: ARGENTINA vs MEKSIKO dan PRANCIS vs DENMARK
Pembaruan dari peta sumber dan bahaya gempa harus dilakukan secara berkala untuk mengakomodasi penemuan-penemuan baru yang akan melengkapi database dan memperbaiki model seismic hazard yang dihasilkan.
“Setelah peta sumber sudah ada, hasil ini harus dituangkan dalam aturan dan tatacara untuk bangunan tahan gempa. Aturan dan tatacara ini harus ditaati dan kontrol pelaksanaannya harus diperketat,” jelasnya.
Selain memperhatikan spesifikasi teknis bangunan, ujarnya, kesiapan menghadapi bencana gempa bisa dimulai dari diri sendiri dengan cara memperhatikan lingkungan sekitar rumah.
Misalnya, dengan memperbaiki tata letak furnitur yang memudahkan evakuasi, atau menghindari pemasangan hiasan dalam rumah yang risiko untuk jatuh ketika terguncang. (ard)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Hingga-Senin-Sore-Jumlah-Korban-Meninggal-Akibat-Gempa-Bumi-di-Cianjur-Mencapai-46-Orang.jpg)