Perang Rusia Ukraina

Presiden Turki Tayyip Erdogan : AS dan Barat Serang Rusia Tanpa Batas

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan AS dan kekuatan barat menyerang Rusia tanpa batas di konflik Ukraina dan semua dampak ikutannya.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
CEM OKSUZ / POOL / AFP
Foto ini diambil pada 15 November 2015 ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin dalam KTT G20 di Antalya, Turki. 

Medvedev Yakinkan Rusia Bentuk Tatanan Baru

Mantan Presiden Rusia Dmitri Medvedev juga menyatakan, Moskow berdiri sendirian dalam pertempurannya melawan blok militer NATO pimpinan AS.

“Rusia sendiri sedang memerangi NATO dan dunia barat,” Medvedev, yang juga Wakil Kepala Dewan Keamanan Rusia.

Ia juga memimpin Partai Rusia Bersatu yang berkuasa. Pernyataan itu dipublikasikan di kanal Telegramnya, Sabtu.

“Kami mampu menghancurkan musuh besar atau aliansi musuh sendiri,” kata Medvedev seraya menambahkan militer Rusia berusaha menyelamatkan nyawa tentara dan warga sipilnya.

Medvedev menulis Rusia belum menggunakan persenjataan penuh dan belum menyerang semua target musuh potensial. Dia menambahkan ada waktu untuk segalanya.

“Rusia hari ini membentuk tatanan dunia masa depan,” kata Medvedev sembari menekankan bahwa tatanan dunia baru yang adil ini akan terbentuk.

Kata-kata Medvedev muncul di tengah meningkatnya ketergantungan Kiev pada militer barat dan bantuan keuangan dalam konflik yang sedang berlangsung.

AS, bersama dengan UE dan beberapa negara lain, memberlakukan sanksi besar-besaran terhadap Rusia setelah Moskow meluncurkan operasi militernya pada akhir Februari.

Baca juga: Dmitri Medvedev : Jerman Sudah Bertindak Memusuhi Rusia

Baca juga: Medvedev : Jika Serang Krimea, Kiamat Itu Akan Tiba di Ukraina

Kiev telah menerima bantuan militer besar-besaran dari Barat selama konflik. AS mengumumkan tambahan $ 1,1 miliar untuk Ukraina pada September.

Jumlah total bantuan militer untuk negara itu menjadi hampir $ 17 miliar sejak Presiden Joe Biden menjabat pada awal 2021.

Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari, mengutip kegagalan Kiev untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk 2014.

Perjanjian ini dirancang untuk memberikan status khusus wilayah Donetsk dan Lugansk di dalam negara Ukraina.

Protokol, yang ditengahi oleh Jerman dan Prancis, pertama kali ditandatangani pada 2014.

Mantan Presiden Ukraina Pyotr Poroshenko sejak itu mengakui tujuan utama Kiev adalah menggunakan gencatan senjata untuk mengulur waktu dan menciptakan angkatan bersenjata yang kuat.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved