Perang Rusia Ukraina

Presiden Turki Tayyip Erdogan : AS dan Barat Serang Rusia Tanpa Batas

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan AS dan kekuatan barat menyerang Rusia tanpa batas di konflik Ukraina dan semua dampak ikutannya.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
CEM OKSUZ / POOL / AFP
Foto ini diambil pada 15 November 2015 ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin dalam KTT G20 di Antalya, Turki. 

News Update

  • Militer Rusia menarik pasukan dari Kota Kherson, dan membuat garis pertahanan baru di Tepi Kiri Sungai Dnieper
  • Keputusan itu diklaim diambil untuk menyelamatkan nyawa ribuan tentara Rusia dan penduduk sipil Kherson proRusia
  • Kiev dan pendukung baratnya menyatakan mundurnya tentara Rusia dari Kherson adalah kemenangan bagi Ukraina

TRIBUNJOGJA.COM, ANKARA – Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan mengatakan, AS dan sekutu barat (Eropa/NATO) secara keseluruhan menyerang Rusia hampir tanpa batas.

Ini menurutnya memicu reaksi defensif alami. Pernyataan disampaikan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sekembalinya dari pertemuan puncak negara-negara Turki di Samarkand, Uzbekistan, Sabtu (12/11/2022).

Ia menggaribawahi Rusia bukanlah negara biasa, tetapi kuat, dan Erdogan memuji perlawanan hebatnya terhadap tindakan bermusuhan kolektif negara barat.

“Barat, dan terutama AS, menyerang Rusia hampir tanpa batas. Tentu saja, Rusia menunjukkan perlawanan besar dalam menghadapi semua ini,” kata Erdogan.

Baca juga: Erdogan Bikin Khawatir Negara Barat, Ini Sederet Penyebabnya

Baca juga: Empat Kesepakatan Rusia dan Ukraina Menurut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Turki akan melanjutkan upayanya untuk menengahi konflik antara Rusia dan Ukraina. Ia menunjuk upaya Turki melancarkan koridor ekspor biji-bijian dari pelabuhan Ukraina.

Pekan lalu, serangan menimpa armada kapal angkatan laut Rusia di Sevastopol, Krimea. Serangan diyakini dilancarkan dari jalur kapal ekspor oleh militer Inggris dan Ukraina.

Tuduhan yang dibantah London. Ukraina juga menolak tuduhan itu. Moskow sempat membatalkan koridor ekspor bahan pangan, tapi kemudian merevisinya.

“Ada insiden koridor gandum itu. Kita bisa membuka koridor perdamaian dari sini, kita coba lakukan ini. Kami pikir cara terbaik untuk ini adalah beralih dari dialog ke perdamaian,” kata Erdogan.

Ia menambahkan saat ini, pihak-pihak dalam kesepakatan biji-bijian harus fokus menjalankannya dengan cara yang serius.

Turki mengambil posisi netral di awal konflik antara Rusia dan Ukraina, menolak untuk mengambil bagian dalam sanksi barat terhadap Moskow.

Ankara melanjutkan kerja sama militernya dengan Kiev – termasuk menjual sejumlah drone serang Bayraktar ke Kiev.

Ankara telah mempertahankan kontak dengan kedua belah pihak, berusaha menjadi mediator.

Erdogan menyediakan diri jadi tuan rumah pembicaraan antara Moskow dan Kiev di Istanbul awal tahun ini.

Tapi upaya itu disabot Inggris dan NATO. Ukraina menghentikan negosiasi dan memilih jalan perang melawan Rusia.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved