Berita Sleman Hari Ini

Sebanyak 60 Gedung SD dan SMP di Sleman Butuh Perbaikan

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Sri Adi Marsanto menyampaikan, jumlah SD Negeri maupun swasta di Sleman ada 511 sekolah.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Sleman 

Tentu, dalam proses perencanaan penanganan perbaikan di sekolah, Dinas Pendidikan akan melakukan skala prioritas. 

"Ini menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran yang ada," katanya. 

Belum Ramah Anak

Selain puluhan sekolah butuh perbaikan, Sekolah di Kabupaten Sleman juga dinilai belum sepenuhnya ramah terhadap anak. Hal ini diungkapkan, Pegiat Pendidikan Ramah Anak, Katarina Susi Indreswari.

Katarina selama ini banyak terlibat dalam upaya mewujudkan pendidikan ramah anak di Bumi Sembada.

Satu di antaranya berperan mendirikan, Yayasan Aruna Payoda, sebuah lembaga swadaya yang berfokus pada anak.

Ia mengaku pernah mengujicoba instrumen pendidikan ramah anak di beberapa tempat. Hasilnya, belum sepenuhnya ramah. 

"Jadi selintas aja udah ketahuan, yang pertama, misal toilet. Komposisi anak dengan toilet, sudahlah tidak usah dipertanyakan. Penilaian audit bangunan. Kemudian, bagaimana anak disuruh membawa buku, dikejar materi juga bukan ramah anak. Lalu bagaimana anak tidak dilibatkan pada pembangunan. Tiap pembangunan sama sekali tidak ada suara anak. Jadi dari indikator itu saja, sudah ketahuan tidak ramah anak," kata dia. 

Katarina mengatakan program-program pembangunan yang ada di sekolah selama ini cenderung adalah program komite, sekolah maupun milik orang dewasa.

Anak tidak dilibatkan, tidak diajak bicara. Padahal, kata dia, melibatkan anak dalam tiap proses pembangunan di sekolah sangat penting.

Anak harus diajak bicara lalu diberi pengertian supaya apa yang ada disekelilingnya ramah bagi dirinya, teman-temannya, maupun bagi orang lain. 

"Apa yang dipikirkan orang tua, belum tentu sama dengan yang dipikirkan anak-anak. Untuk siswa non-difabel saja, belum ramah, apalagi untuk siswa difabel," kata Katarina.

Untuk itu, dibutuhkan sinergi dari semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, orangtua, desa maupun lembaga masyarakat untuk mengawal sampai ke akar rumput kebijakan pendidikan yang ramah terhadap anak. (rif)

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved