Berita Kesehatan
Fakta Lengkap tentang Leptospirosis : Gejala, Cara Mencegah dan Pengobatannya
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis, yang berarti ditularkan dari hewan ke manusia, terutama anjing, hewan pengerat, dan hewan ternak.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com - Seiring musim penghujan yang telah melanda hampir seluruh wilayah Indonesia, berbagai ancaman penyakit ikut menghampiri.
Satu di antaranya adalah leptospirosis.
Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira.
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis, yang berarti ditularkan dari hewan ke manusia, terutama anjing, hewan pengerat, dan hewan ternak.
Baca juga: Dinas Kesehatan Sleman Catat Penurunan Kasus Leptospirosis di Wilayahnya
Seseorang dapat tertular atau terinfeksi leptosirosis melalui:
1. kontak langsung dengan kencing (urine) atau cairan reproduksi dari hewan yang terinfeksi.
2. kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi.
3. terkena air atau tanah yang terkontaminasi oleh kencing (urine) hewan di area hidung, mulut, mata, atau luka di kulit.
4. menyantap makanan atau minum air yang terkontaminasi bakteri Leptospira
Gejala leptospirosis
Gejala leptospirosis biasanya mulai terlihat setelah 2 minggu terinfeksi.
Namun, dalam beberapa kasus, gejala baru muncul setelah satu bulan atau tidak sama sekali.
Leptospirosis ditunjukkan dengan gejala seperti flu, termasuk demam hingga 40 derajat celcius.
Dalam kondisi akut, leptospirosis ditandai dengan gejala yang muncul tiba-tiba, seperti:
1. demam tinggi
2. mata merah
3. sakit kepala
4. panas dingin
5. nyeri otot
6. sakit perut
7. mual dan muntah
8. diare
9. kulit atau mata kuning
10. ruam
Baca juga: Masuk Musim Penghujan, Pemkot Yogya Minta Masyarakat Waspadai Potensi DBD dan Leptospirosis
Jika dibiarkan, dalam 3-10 hari leptospirosis akan berkembang menjadi Sindrom Weil yang bisa memicu kematian.
Berikut gejala-gejala parah leptospirosis:
1. batuk berdarah (hemoptisis)
2. sakit dada
3. kesulitan bernapas
4. kulit dan mata menguning
5. tinja berwarna hitam
6. penurunan volume urine atau jarang buang air kecil
7. muncul bintik-bintik merah datar pada kulit seperti ruam (petechiae)
Baca juga: Waspadai DBD dan Leptospirosis di Musim Penghujan
Beberapa gejala leptospirosis mirip dengan penyakit lain, termasuk selesma dan meningitis.
Oleh sebab itu, kita perlu melakukan tes pemeriksaan.
Dilansir dari WebMD, dokter melakukan tes darah sederhana dan memeriksa antibodi dalam darah untuk mendeteksi leptospirosis .
Jika Anda menunjukkan tanda-tanda leptospirosis parah, dokter mungkin merekomendasikan rontgen dada, CT scan, hingga tes DNA.
Cara mencegah leptospirosis
Dikenal sebagai penyakit yang masuk dalam kelompok zoonosis, leptospirosis dapat dicegah dengan beberapa cara berikut:
1. Menghindari hewan yang bisa terkena atau menjadi perantara leptospirosis
2. Mengenakan pakaian dan sepatu pelindung jika bekerja di pertanian, peternakan, atau sekitar hewan
3. Menggunakan sarung tangan dan sepatu jika harus bersentuhan dengan air atau tanah yang mungkin terkontaminasi bakteri.
4. Hindari berenang di danau atau sungai setelah banjir Hanya konsumsi air yang diolah.
5. Jangan minum air danau atau sungai tanpa direbus terlebih dahulu.
Baca juga: Tak Hanya Virus Corona, Leptospirosis Juga Masih Jadi Ancaman Masyarakat
Pengobatan leptospirosis
Untuk kasus ringan, leptospirosis dapat diobati dengan antibiotik, termasuk penisilin, amoksisilin, ampisilin, dan doksisiklin.
Dokter kemungkinan juga meresepkan ibuprofen untuk meredakan demam dan nyeri otot.
Sementara itu, leptospirosis parah yang menyebabkan kerusakan organ, diobati dengan plasmaferesis atau pertukaran plasma.
Prosedur ini dilakukan dengan mengeluarkan darah menggunakan tabung yang terpasang pada vena. (*/Kompas.com)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenal Leptospirosis: Penyebab, Gejala, hingga Pencegahan"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/grafis-leptospirosis_1303.jpg)