Berita Kota Yogya

Masuk Musim Penghujan, Pemkot Yogya Minta Masyarakat Waspadai Potensi DBD dan Leptospirosis

hingga pertengahan September 2022, jumlah penderita DBD di Kota Yogyakarta, sudah menyentuh 129 kasus.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Nyamuk aedes aegypti 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mewanti-wanti warga masyarakat agar mewaspadai potensi penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan leptospirosis di tengah cuaca ekstrem menuju musim penghujan.

Kapala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogya, Endang Sri Rahayu mengatakan, musim penghujan yang datang lebih awal, jadi perhatian dalam pencegahan penyakit menular, atau tidak menular.

Sebagai informasi, hingga pertengahan September 2022, jumlah penderita DBD di Kota Yogyakarta, sudah menyentuh 129 kasus. Jumlah itu, sudah melampaui data selama 2021 silam, yang hanya tercatat 93 penderita saja.

Sementara untuk penderita leptospirosis, ia memaparkan, muncul 6 kasus di wilayahnya, hingga Agustus 2022. Jumlah tersebut juga melebihi angka 5 kasus selama 2021.

"Itu masih berpotensi meningkat. Kami berharap agar warga menjaga kebersihan dan menerapkan pencegahan penyakit saat musim penghujan," urainya, Jumat (23/9/22).

Dijelaskannya, guna mengantisipasi DBD, masyarakat harus cermat menerapkan metode 4M. Yakni, menguras, menutup, mengubur dan memantau. Upaya tersebut, diyakini masih menjadi jurus paling ampuh untuk mencegah DBD.

"Masyarakat dapat memulai dengan memanfaatkan kembali barang bekas, serta memanjat talang, atau titik-titik yang biasa ada genangan air setelah hujan," terangnya.

Baca juga: 395 Kasus DBD Ditemukan di Wilayah Klaten, 19 Orang Diantaranya Meninggal Dunia

"Selain itu, untuk mencegah gigitan nyamuk bisa memakai baju panjang, atau menanam tanaman anti nyamuk. Jangan menggantung baju secara berlebih," jelas Endang.

Di samping DBD, potensi penyakit leptospirosis juga tidak boleh disepelekan masyarakat. Leptospirosis sendiri adalah penyakit bakteri yang menyebar lewat air seni hewan yang terinfeksi, dan sangat rawan menular ke manusia.

"Manusia bisa terkena leptospirosis lewat kontak langsung dengan urine hewan yang terinfeksi, atau melalui air, tanah, dan makanan yang terkontaminasi itu," cetusnya.

Gejala awal yang dirasakan penderita leptospirosis, antara lain, demam tinggi, sakit kepala, mual, muntah, hilang nafsu makan, diare, mata merah, hingga nyeri otot, terutama pada betis dan punggung bawah, sakit perut, serta bintik-bintik merah pada kulit yang tidak hilang ketika ditekan.

"Jika merasakan gejala-gejala tersebut, warga segera saja mendatangi faskes, supaya mendapat penanganan dini dan risikonya dapat diminimalisir," tutur Endang. (Tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved