Berita Kesehatan
Pakar UGM Diskusi tentang Gagal Ginjal Akut : Ortu Perlu Perhatikan Volume Urine Anak
Orang tua harus mulai waspada dengan banyaknya pasien gagal ginjal akut yang misterius ini.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penyakit gagal ginjal akut masih menjadi momok bagi sebagian besar orang tua di Indonesia.
Bagaimana tidak, per 21 Oktober 2022, ada 241 kasus anak yang terjangkit penyakit gagal ginjal akut dan 133 anak atau 55 persennya meninggal dunia.
Menanggapi hal itu, apt. Ika Puspita Sari, M.Si., Ph.D., Dosen di Departemen Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada ( UGM ) mengatakan, orang tua harus mulai waspada dengan banyaknya pasien gagal ginjal akut yang misterius ini.
“Tingkatkan kewaspadaan dini jika anaknya kurang dari 18 tahun. Perhatikan. Kalau ada demam, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), infeksi saluran cerna apalagi diitambah mulai ada oliguria dan anuria, sudah tidak usah tanya kiri-kanan, segera pergi ke fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama,” terangnya lagi.
Baca juga: Daftar 102 Obat Sirup yang Disebut Dilarang Dijual di Apotek, Kemenkes : Masih Diuji BPOM
Anuria atau anuresis terjadi ketika ginjal tidak bisa memproduksi urine.
Pengidapnya mungkin mengalami oliguria pada awalnya, atau produksi urine yang rendah, dan kemudian berkembang menjadi anuria.
Ia menjelaskan, di faskes tingkat pertama itu, akan ada tenaga kesehatan (nakes) yang mengecek kondisi pasien.
Mereka juga yang akan menegakkan diagnosa. Apabila mereka tidak bisa melanjutkan pemeriksaan, akan ada rujukan untuk segera ke rumah sakit.
Meski demikian, jika pasien sudah terlihat gejala oliguria hingga anuria, maka bisa segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan maksimal.
“Pemerintah sudah menunjuk sejumlah rumah sakit. Ini tidak terjadi di satu tempat saja, tetapi di seluruh Indonesia. Kalau sudah merasa ada pemberatan penyakit di tubuh, segera bawa saja ke RS,” tambah Ika.
Lantas, apa yang bisa dilakukan masyarakat di masa serba ketidakpastian ini?
Dikatakan Ika, masyarakat juga sebaiknya jangan panik dengan info yang bersliweran di media sosial.
“Sama halnya dengan Covid-19. Dulu banyak info-info yang pakai logo-logo BPOM, Kemenkes. Kalau sekarang, ketika dapat informasi dari sosial media, jangan ikut menyebarkan jika merasa tidak yakin dengan kebenarannya,” tegas dia.
Ika melanjutkan, masyarakat bisa membuka laman resmi dari BPOM dan Kementerian Kesehatan untuk mengetahui kebenaran dari info tersebut.
Baca juga: BPOM Tarik 5 Obat Sirup dari Peredaran, Sekda DIY: Jangan Dikonsumsi Kalau Terlanjur Membeli
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pakar-UGM-Diskusi-tentang-Gagal-Ginjal-Akut-Ortu-Perlu-Perhatikan-Volume-Urine-Anak.jpg)