Berita Kulon Progo Hari Ini

Berkas Dugaan Korupsi di Pegadaian UPC Brosot Dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Yogyakarta

Tersangka merekayasa barang agunan sebanyak 877 perhiasan beserta nama-nama yang menggadaikan serta nama-nama yang sudah pernah mengajukan kredit.

Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Sri Cahyani Putri Purwaningsih
Kepala Kejari Kulon Progo, Ardi Suryanto (kiri) didampingi Kasi Pidana Khusus Kejari Kulonprogo, Aulia Hafidz (kanan) saat menyampaikan perkara dugaan kasus korupsi yang terjadi di Pegadaian UPC Brosot kepada awak media, Senin (19/9/2022). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Sri Cahyani Putri Purwaningsih

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Kejaksaan Negeri (Kejari) Kulon Progo melimpahkan berkas perkara tindak pidana korupsi dugaan kasus penyimpangan dalam pemberian kredit yang terjadi di Pegadaian Unit Pelayanan Cabang (UPC) Brosot, Kapanewon Galur, Senin (19/9/2022). 

Kasus itu menyeret tersangka berinisial Y (50), warga Kota Yogyakarta yang menjabat sebagai kepala UPC di pegadaian tersebut.

Usai pelimpahan berkas perkara, tersangka diserahkan kepada jaksa penuntut umum (JPU). Sehingga persidangan terkait kasus itu akan segera digelar di Pengadilan Tipikor Yogyakarta . 

Kepala Kejaksaan Negeri Kulon Progo, Ardi Suryanto mengatakan pihaknya telah selesai melakukan penyelidikan terkait perkara tindak pidana korupsi di Pegadaian UPC Brosot yang dilakukan oleh tersangka selama kurun waktu 2019 hingga awal 2022.

Baca juga: Kejari Gunungkidul Tahan Mantan Lurah Getas Playen Terkait Kasus Dugaan Korupsi Dana Desa

Adapun, Kejari Kulon Progo menangani kasus ini sejak Februari 2022.

"Jadi hari ini (berkas perkara) diserahkan kepada JPU setelah dinyatakan lengkap (P21). Termasuk administrasi dan surat dakwaannya akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Yogyakarta," kata Ardi saat ditemui di kantornya, Senin (19/9/2022).

Dia menjelaskan, terungkapnya dugaan kasus korupsi setelah menerima informasi dari masyarakat yang kemudian ia tindaklanjuti.

Hasilnya, ditemukan adanya penyimpangan.

Setelah diaudit, indikasi kerugiannya kurang lebih mencapai Rp 4,9 Miliar. 

Modus yang dilakukan, tersangka merekayasa barang agunan sebanyak 877 perhiasan beserta nama-nama yang menggadaikan.

Serta nama-nama yang sudah pernah mengajukan kredit.

Rekayasa dilakukan untuk menyiasati pemberian jaminan barang. 

Ardi menyebut, Y merupakan tersangka tunggal dalam kasus ini sehingga tidak ada tersangka lain.

Baca juga: Update Kasus Korupsi Pembelian BBM DLH Kabupaten Magelang: Kejari Tetapkan 2 Tersangka Baru

"Dan Y sudah mengakuinya, (hasil korupsi) dinikmati sendiri. Tersangka tugasnya merangkap seperti bisa memperhitungkan dan menafsir. Dia (Y) menggunakan kepiawaiannya untuk meyakinkan rekannya. Sehingga staf yang seharusnya menangani tidak tahu," jelas Ardi. 

Adapun, hingga saat ini, tersangka juga belum mengembalikan hasil korupsinya ke negara.

Atas perbuatannya, Y disangkakan pasal 2 ayat 1 jo pasal 3 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi

Terpisah, Kuasa Hukum Y, Gilang Pramana Seta segera mempersiapkan pembelaan bagi kliennya dalam kasus ini. 

"Intinya hari ini tadi tahap 2, kemudian (Y) dilakukan penahanan di Rutan wonosari 20 hari ke depan. Kalau dari kami sebagai tim Penasehat Hukum (PH) akan segera mempersiapkan pembelaan untuk kepentingan klien kami ke depannya," katanya. ( Tribunjogja.com

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved