Perang Rusia Ukraina

PM Hongaria Victor Urban Percaya Barat Takkan Mampu Menangkan Ukraina

PM Hongaria Victor Orban percaya barat takkan mampu memenangkan perang di Ukraina, dan akan kehilangan hegemoni global.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
ARIS MESSINIS / AFP
Tank-tank Rusia hancur di kota Bucha, sebelah barat Kyiv, pada 4 Maret 2022. Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada 4 Maret 2022, dengan suara bulat memilih untuk mengadakan penyelidikan tingkat atas atas pelanggaran yang dilakukan setelah invasi Rusia. dari Ukraina. Lebih dari 1,2 juta orang telah meninggalkan Ukraina ke negara-negara tetangga sejak Rusia meluncurkan invasi skala penuh pada 24 Februari, angka PBB menunjukkan pada 4 Maret 2022. 

TRIBUNJOGJA.COM, BERLIN – Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, mengatakan dia tidak percaya barat dapat memenangkan perang di Ukraina.

Menurutnya, konflik mematikan di Ukraina berpotensi secara demonstratif mengakhiri hegemoni barat secara global.

Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban menyampaikan pernyataan lewat wawancara majalah online Jerman Tichys Einblick, Kamis (18/8/2022).

Orban mengatakan dia memperkirakan Uni Eropa akan lebih lemah di arena global setelah pertempuran di Ukraina berakhir.

Baca juga: Medvedev : Jika Serang Krimea, Kiamat Itu Akan Tiba di Ukraina

Baca juga: Krimea Dalam Bahaya, Rusia Tembak Jatuh Drone Ukraina Dekat Jembatan Raksasa Kerch

Baca juga: Dubes China di Rusia Tuding AS Penghasut Utama Perang di Ukraina

Pemimpin Hongaria itu berargumen barat tidak mampu memenangkan konflik secara militer, dan sanksi yang dijatuhkan kepada Moskow telah gagal membuat Rusia tidak stabil.

Lebih buruk lagi, kata Orban, justru tindakan hukuman itu secara spektakuler menjadi bumerang bagi negara-negara Uni Eropa.

Orban juga mencatat sebagian besar dunia jelas tidak mendukung AS dalam hal menyikapi konflik Ukraina.

Dia menunjuk China, India, Brasil, Afrika Selatan, dunia Arab, Afrika sebagai wilayah yang tidak mendukung garis barat dalam konflik ini.

“Sangat mungkin perang inilah yang secara demonstratif akan mengakhiri supremasi barat,” kata Orban.

Di sisi lain, kekuatan non-UE sudah mendapat manfaat dari situasi tersebut, katanya, menunjuk ke Rusia, yang memiliki sumber energinya sendiri.

Perdana Menteri itu mencatat sementara impor energi UE dari Rusia telah anjlok, raksasa gas milik negara mayoritas Rusia Gazprom telah melihat pendapatannya meroket.

Beijing juga sekarang lebih baik daripada sebelum dimulainya konflik, klaim Orban.

Dia menjelaskan China sebelumnya berada di bawah belas kasihan orang Arab, tetapi sekarang tidak lagi karena mengacu sumber pasokan minyak mereka dari Rusia.

Penerima manfaat lainnya, dalam pandangan Pperdana Menteri Hongaria, adalah perusahaan besar Amerika.

Untuk membuktikan pendapatnya, Orban menunjuk keuntungan dua kali lipat untuk Exxon, empat kali lipat untuk Chevron dan meningkat enam kali lipat untuk ConocoPhillips.

Halaman
12
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved