Prancis Akhiri Misi Tempur di Mali, Bekas Koloninya di Afrika

Prancis menarik tentara terakhirnya dari Mali, Senin (15/8/2022). Penarikan itu menandai akhir operasi tempur di bekas koloninya sejak 9 tahun lalu.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
EMMANUEL MACRON / TWITTER / AFP
Presiden Prancis Emmanuel Macron. Prancis menarik tentaranya dari Mali setelah 9 tahun bertempur melawan terorisme di negara Afrika itu. 

Terlepas dari penarikan dari Mali, Prancis tetap terlibat di Sahel, di Teluk Guinea dan wilayah Danau Chad.

Mitra Prancis di wilayah itu berkomitmen untuk menciptakan stabilitas dan memerangi terorisme.

Bulan lalu, Presiden Prancis Macron melakukan lawatan cepat kd negara-negara bekas koloninya di Afrika.

Pada lawatan itu, Macron menyebut Rusia mendukung penguasa-penguasa rezim tidak sah di Afrika.

Pernyataan Macron ini menimbulkan reaksi keras Moskow. Menlu Sergey Lavrov menyebut pernyataan Macron itu menghina negara-negara di benua itu.

“Jika saya ingat dengan benar, dia mengatakan bahwa dia prihatin dengan aktivitas militer dan diplomatik Rusia di Afrika dan dengan apa yang dia katakan bukan kerja sama, tetapi dukungan untuk rezim dan junta yang benar-benar gagal dan tidak sah,” kata Lavrov kepada wartawan selama perjalanannya ke Uzbekistan akhir bulan lalu.

“Jika kita melihat daftar negara yang kami kunjungi di Afrika, dan jika itu yang dia katakan, itu agak menghina negara-negara Afrika, yang, terlepas dari segalanya, terus secara konsisten mengembangkan hubungan dengan Federasi Rusia,” lanjut Lavrov.

Lavrov mengunjungi Mesir, Republik Demokratik Kongo, Uganda dan Ethiopia selama perjalanan empat hari ke benua itu sebelum tiba di Uzbekistan pada Kamis.

Macron berada di Afrika pada waktu yang hampir bersamaan, mengunjungi Kamerun, Benin dan Guinea-Bissau.

Berbicara di Kamerun, bekas jajahan Prancis, pada hari Selasa, Macron menyebut Rusia salah satu kekuatan kolonial kekaisaran terakhir.

Dia menuduh Moskow mendukung kekuatan politik yang melemah dan junta militer yang tidak memiliki legitimasi di Afrika.

Macron juga menyuarakan keprihatinan atas kehadiran kontraktor keamanan swasta Wagner yang terkait dengan Rusia di Mali dan Republik Afrika Tengah.

Kremlin membantah Wagner mewakili pemerintah Rusia. Lavrov mengatakan tahun lalu kontraktor swasta itu telah diundang otoritas Mali untuk membantu memerangi teroris.(Tribunjogja.com/RussiaToday/xna)

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved