Perang Rusia Ukraina
Washington Minta Rusia Tarik Pasukan dari Pembangkit Nuklir Zaporozhye
Kemenlu AS mendesak Rusia menarik pasukannya dari PLTN Zaporozhye, dan menyerahkan kendali instalasi ke Ukraina.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, WASHINGTON – Kementerian Luar Negeri AS mendukung permintaan Ukraina untuk zona demiliterisasi di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporozhye (ZNPP).
Washington juga turut menuntut penarikan pasukan Rusia yang menguasai daerah tersebut. Pernyataan AS datang bersamaan rapat Dewan Keamanan PBB yang membahas krisis Zaporozhye.
“Pertempuran di dekat pembangkit nuklir itu berbahaya dan tidak bertanggung jawab – dan kami terus menyerukan kepada Rusia untuk menghentikan semua operasi militer di atau dekat fasilitas nuklir Ukraina,” tulis pernyataan Kemenlu AS, Kamis (11/8/2022).
Baca juga: Siapa Tembaki Pembangkit Nuklir Zaporozhskaya di Ukraina?
Baca juga: Dubes Rusia di PBB Peringatkan Eropa di Ambang Bencana Nuklir
Baca juga: Sekjen PBB Antonio Gutteres Desak Ciptakan Zona Demiliterisasi di Zaporozhye Ukraina
Mereka mendesak Rusia mengembalikan kendali penuh instalasi itu ke Ukraina, dan mendukung seruan Ukraina untuk zona demiliterisasi di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga meminta zona demiliterisasi, mendesak Rusia dan Ukraina menarik personel dan peralatan militer dari pabrik dan menahan diri dari pengerahan pasukan atau peralatan lebih lanjut ke lokasi.
Pada Rabu, AS dan sekutu G7-nya menuntut Rusia untuk segera menyerahkan kembali kendali penuh PLTN Zaporozhye ke Ukraina.
Akses ke personel Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga harus segera diberikan, tetapi saat itu tidak menyebutkan zona demiliterisasi.
Sementara itu, asosiasi nuklir AS, Kanada, dan Eropa menerbitkan surat yang menyerukan akses IAEA ke ZNPP dan penarikan pasukan Rusia.
Mereka menambahkan penciptaan zona aman 30 kilometer di sekitar lokasi, di mana pasukan Ukraina dan Rusia akan menghentikan aktivitas militer.
Menurut militer Rusia, pasukan Ukraina telah berulang kali menembakkan artileri dan roket ke pabrik tersebut sejak akhir Juli.
Diduga sebelumnya menggunakan drone untuk menyerang fasilitas tersebut – yang terbesar di Eropa.
Serangan terakhir dilaporkan terjadi Kamis, dengan unit Brigade Artileri ke-44 Ukraina menembaki pabrik dari Nikopol dan merusak sistem pendingin reactor.
Klaim disampaikan Kementerian Pertahanan Rusia. Namun para spesialis pasukan Rusia mencegah kerusakan besar pada instalasi tersebut.
Moskow menyebut serangan Ukraina ke PLTN Zapporozhye sebagai tindakan terorisme. Serangan artileri Ukraina ke Donetsk juga menjebol pabrik bir, dan menumpahkan zat berbahay amoniak.
Rusia telah meminta kehadiran IAEA di situs tersebut, tetapi Ukraina keberatan. Perwakilan tetap Moskow di PBB Vassily Nebenzia mengingatkan hal it uke Dewan Keamanan PBB.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Latihan-taktis-dan-bersama-Garda-Nasional-Ukraina-di-kota-hantu-Pripyat-dekat-Chernobyl-Ukraina.jpg)