Berita Sleman Hari Ini

Dua Tahun Vakum, Kini Kirab Suran Mbah Demang Kembali Digelar

Kirab dilaksanakan sejak pukul 19.00-22.30 WIB itu diikuti oleh 14 kelompok dari berbagai daerah di Kalurahan Banyuraden dan sekitarnya.

Tayang:
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Neti Istimewa Rukmana
Melihat kemeriahan tradisi Kirab Suran Mbah Demang, Jumat (5/7/2022) malam. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Setelah dua tahun vakum, Kirab Suran Mbah Demang kini kembali digelar.

Tradisi Kirab Suran Mbah Demang sendiri merupakan pelestarian budaya yang dilakukan secara turun temurun di kalangan masyarakat Kalurahan Banyuraden.

Pasalnya, semasa Mbah Demang hidup, sering memberi sedekah dan terdapat petilasan sumur Mbah Demang yang banyak diincar olah orang-orang untuk mendapatkan keberkahan.

Dalam pagelaran itu terdapat ribuan penonton dari berbagai Kabupaten/Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang haus akan hiburan tradisi budaya sejak adanya pandemi Covid-19. 

Puncak kemeriahan pun ditandai dengan adanya lempar udik-udik serta perebuatan gunungan dari hasil bumi.

Kendati demikian, Lurah Kalurahan Banyuraden, Sudarisman, ST, mengatakan persiapan menuju pagelaran tersebut sangat singkat.

Baca juga: Pemkab Sleman Lakukan Safari Jumat di Masjid At-Taqwa Macanan Bimomartani

"Sebenarnya kami masih takut menggelar acara itu, karena masih pandemi Covid-19. Tetapi, dengan waktu persiapan yang sesingkat itu alhamdulillah bisa terjalin dengan baik," ujarnya, kapada wartawan di Jalan Godean Kilometer 5, Padukuhan Modinan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (5/8/2022) malam.

Acara yang dilaksanakan sejak pukul 19.00-22.30 WIB itu diikuti oleh 14 kelompok dari berbagai daerah di Kalurahan Banyuraden dan sekitarnya.

Pihaknya berharap, adanya acara tahunan itu dapat lebih mempererat tali persaudaraan bagi pelaku budaya dan bisa menjadi ajang kreasi dari masyarakat untuk mendorong kegiatan budaya tersebut.

Melihat animo masyarakat pada hari itu yang haus akan tradisi tersebut, membuat Sudarisman bersyukur.

Sebab, menurutnya masyarakat saat ini masih tetap bersatu menyemarakan Kirab Suran Mbah Demang yang sudah menjadi budaya rutinitas setiap malam ke delapan suro.

Panewu Kapanewon Gamping, Sarjono, menyampaikan, Kirab Suran Mbah Demang menjadi aset budaya yang luar biasa.

Adanya tradisi itu mampu mendukung sisi pariwisata yang ada di Kabupaten Sleman maupun Daerah Istimewa Yogyakarta lebih populer lagi.

"Harapan kami melalui kirab budaya, pertama adalah melestarikan budaya lokal yang ada di Kalurahan Banyuraden. Kedua mampu memberikan manfaat kepada pelaku usaha khususnya bagi mereka yang memiliki usaha dagang atau UMKM, sehingga dapat mengembangkan usaha dan menyejahterakan warga merejaka. Jadi, kami berharap setiap ada event budaya akhirnya ada kolaborasi antara kebudayaan dan juga potensi pelaku UMKM," jelasnya.

Melalui acara tersebut pihanya berharap, dapat memberikan kesejahteraan bagi warga masyarakat sekitar.

"Jadi istilahnya adalah nguri-nguri kabudayan tumuju gapuraning karaharjan. Artinya, nguri-nguri kabudayan itu melestarikan budaya dalam rangka menyejahterakan masyarakat di Kalurahan Banyuraden," tambahnya.

Sementara itu, Kapolsek Gamping, Kompol B Muryanto, menyampaikan, pagelaran yang berada di titik akses kendaraan lalu lintas cukup padat, juga harus diperhatikan oleh pihaknya.

"Sehingga rekayasa lalu lintas dari Simpang Empat Demak Ijo dan Simpang Empat Pataran kami alihkan," jelasnya.

Pihaknya tidak melakukan penutupan total melainkan diberlakukan pengalihan jalan.

Bahkan, jauh sebelum pelaksanaan Kirab Mbah Demang digelar, pihaknya telah memberikan informasi itu kepada masyarakat melalui radio dan media cetak maupun online.

Baca juga: Bupati Abdul Halim Sumringah Ikuti Kirab Budaya di Wukirsari Bantul, Tak Henti Sapa Warga

Sehingga, jalur yang dipergunakan pada malam itu mulai dialihkan pada 19.00-22.30 WIB.

Rekayasa lalin itu dimulai dari penutupan akses dari Simpang Empat Demak Ijo Godean, Simpang Empat Patran, Jalan Tata Bumi, Jalan Titi Bumi, serta Jalan Cokrowijayan.

"Kemudian personel yang saya pergunakan sekitar 90 personil," sambungnya.

Personel itu terdiri atas gabungan dari lalu lintas, Sabhara Polres Sleman, Polsek Gamping, Polsek Godean, Polsek Moyudan, Polsek Miggir, Polsek Seyegan, dan dibantu relawan. 

"Relawan kami banyak sekali, ada TRC, GRC, RAPI, Banser, Linmas, dan ParelGO," lanjutnya.

Tidak hanya itu saja, Satpol PP dan relawan yang ada di Kalurahan Banyuraden turut dikerahkan untuk mengamankan lokasi itu.

"Memang harapan kami, ketika banyak kerumunan dan banyak desakan, jangan sampai ada copet atau pencurian atau motor hilang. Alhamdulillah sampai detik ini belum ada laporan. Mudah-mudahan aman," pintanya.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved