Konflik China Taiwan

Setelah Pelosi ke Taiwan China Bakal Makin Agresif

China diperkirakan akan meningkatkan tekanan dan lebih agresif setelah Ketua DPR AS Nancy Pelosi berkunjung ke Taiwan.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
China Military/Global Times
HELI SERANG - Penampakan heli tempur Z-10 produksi China yang memperkuat Garnisun PLA di Hongkong. Heikopter serang itu dianggap semakin mengokohkan kedaulatan China atas wilayah otonomi Hongkong yang 25 taun lalu dikembalikan Inggris ke Beijing. 

TRIBUNJOGJA.COM, BEIJING – Koresponden BBC di Beijing, Stephen McDonell memperkirakan elite Beijing secara politik memanfaatkan secara maksimal kunjungan Ketua DPR Nancy Pelosi ke Taiwan.

Meskipun retorika China sangat keras, nyatanya sudah bertahun-tahun China tidak langsung menyerang dan menduduki pulau itu.

Sekarang sesudah Ketua DPR AS Nancy Pelosi telah mengunjungi Taiwan, ia bertanya apakah ada politisi level tinggi AS lain yang akan melakukan hal yang sama di masa depan?

“Sekarang China telah mengadakan latihan penembakan skala besar, begitu dekat dengan Taiwan, mengapa tidak melakukannya lagi?” tulis McDonell di situs media Inggris itu, Kamis (4/8/2022).  

Baca juga: Nancy Pelosi Pergi, China Lanjutkan Latihan Tempur di Sekeliling Taiwan

Baca juga: Media China Tunjukkan Kemarahan Susul Kehadiran Nancy Pelosi di Taiwan

Baca juga: Tampil di Parlemen Taiwan, Nancy Pelosi Sebut Taiwan Masyarakat Bebas

Secara politik dan militer, China dipastikan akan semakin agresif terhadap Taiwan. Cara militer memblokade pulau itu bisa jadi opsi mempercepat reunifikasi.

Menurut McDonell, pendekatan di bawah Presiden China Xi Jinping menjadi jauh lebih agresif, dengan semakin banyak tekanan diterapkan di Taipei.

Mereka yang memiliki kecenderungan lebih militeristik di eselon atas kekuasaan Beijing pasti diam-diam menyambut gembira kunjungan Nancy Pelosi.

Ini telah memberikan alasan yang ideal untuk meningkatkan latihan perang di sekitar Taiwan sebagai persiapan jika harus merebut paksa pulau itu lewat senjata.

Tantangan terbesar mungkin bagi stabilitas regional adalah posisi Taiwan yang terkesan konyol di sebagian pihak.

China berpura-pura Taiwan saat ini adalah bagian dari wilayahnya, meskipun pulau itu memungut pajaknya sendiri, memberikan suara di pemerintahannya sendiri, mengeluarkan paspornya sendiri, dan memiliki militernya sendiri.

AS berpura-pura tidak memperlakukan Taiwan sebagai negara merdeka, meskipun mereka menjual senjata berteknologi tinggi ke pulau itu.

Kadang-kadang, politisi berpangkat tinggi mengunjungi pulau itu, sangat mirip seperti perjalanan resmi diplomatik.

Jelas pertunjukan seperti ini sengaja dirancang untuk menjamin status quo Kawasan. Bahayanya bagi dunia, ada orang-orang di Beijing yang ingin melihat pertunjukan ini runtuh.

Selama beberapa dekade, media yang dikendalikan Partai Komunis China telah mengeluarkan retorika serupa di Taiwan.

Tapi gagasan perang untuk merebut Taiwan tidak pernah terasa lebih dekat dari yang dibayangkan banyak orang.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved