Konflik China Taiwan

Setelah Pelosi ke Taiwan China Bakal Makin Agresif

China diperkirakan akan meningkatkan tekanan dan lebih agresif setelah Ketua DPR AS Nancy Pelosi berkunjung ke Taiwan.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
China Military/Global Times
HELI SERANG - Penampakan heli tempur Z-10 produksi China yang memperkuat Garnisun PLA di Hongkong. Heikopter serang itu dianggap semakin mengokohkan kedaulatan China atas wilayah otonomi Hongkong yang 25 taun lalu dikembalikan Inggris ke Beijing. 

Menurut Stephen McDonell, ada kepercayaan di antara kebanyakan orang Presiden Xi ingin mengambil Taiwan selama masa jabatannya.

Kesan itu menjadikan Xi Jinping melambungkan dirinya ke status abadi, sebagai pemimpin China yang menyatukan tanah air.

Di mata Stephen McDonell, Xi Jinping secara efektif mengekang Hongkong, sebuah kota yang pernah merepotkan China, jauh lebih cepat dari jadwal.

Bahwa Presiden Xi akan melanjutkan masa jabatan ketiga yang bersejarah dalam beberapa bulan sebenarnya telah sedikit mengurangi tekanan.

Sekarang dia dapat tetap memimpin selama yang dia suka, tidak seperti para pemimpin sebelumnya sejak Mao Zedong yang terbatas pada dua periode.

Karena itu Xi Jinping tidak perlu terburu-buru untuk menyerang pulau itu. Tetapi setiap hari ia membawa suasana seperti lebih dekat ke arah sana.

Beberapa propaganda China, yang dirancang untuk meningkatkan dukungan rakyat untuk solusi militer, menunjukkan tingkat kenaifan sebelum Perang Dunia I.

Bahkan liputan konflik Ukraina yang sangat disensor di China, memberi pengertian apa yang terjadi di Ukraina bisa membuat orang-orang China berpikir tentang potensi konflik berdarah.

Namun dalam catatan Stephen McDonell, nasionalisme bagi Sebagian rakyat China adalah alat yang ampuh agar rakyat mudah dikuasai.

Jika Beijing benar-benar menyerang Taiwan, bahkan dengan kekuatan PLA, ia harus melakukan pendaratan skala besar melintasi selat yang berbahaya.

Perlawanan  pasti terjadi oleh masyarakat yang ingin hidup bebas. Perang seperti itu bisa berlangsung lama.

China bisa saja menjadi miskin jika perang berkelanjutan. Situasi itu akan membunuh ekonomi China.

Bahkan jika PLA menang, itu akan mengarah pada pendudukan sebuah pulau besar yang dihuni jutaan orang, yang kemungkinan besar akan membenci Beijing selamanya.(Tribunjogja.com/BBC/xna)

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved