Berita Kota Yogya Hari Ini
Pameran 'Silang Saling : Titian dan Udakan' Dukung Terciptanya Ekosistem Seni Rupa
Pameran 'Silang Saling : Titian dan Udakan' resmi dibuka oleh Seniman Eko Nugroho pada Senin (18/7/2022) di Taman Budaya Yogyakarta dan akan
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pameran 'Silang Saling : Titian dan Udakan' resmi dibuka oleh Seniman Eko Nugroho pada Senin (18/7/2022) di Taman Budaya Yogyakarta dan akan berlangsung hingga 28 Juli 2022.
Asana Bina Seni merupakan bagian dari Program Yayasan Biennale Yogyakarta yang berkontribusi dalam berkelanjutan ekosistem seni yang dimulai pada 2019 lalu.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, melalui Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menyampaikan, penyelenggaraan pameran tersebut merupakan sebuah upaya untuk mendukung terciptanya ekosistem seni rupa yang berkelanjutan di Yogyakarta.
Baca juga: Satpol PP DIY Akan Tertibkan 35 Lapak Pedagang di Bahu JJLS Gunungkidul
"Tema Silang Saling : Titian dan Udakan kali ini, merupakan refleksi terhadap keragaman pendekatan, media dan isu-isu yang diangkat oleh seniman program Asana Bina Seni 2022," ucapnya, saat memberi sambutan dalam pembukaan Silang Saling : Titian dan Udakan di Taman Budaya Yogyakarta, Senin (18/7/2022) malam.
Persilangan dan pertemuan di antara beragam hal yang berbeda membuat pameran tersebut menjanjikan kekayaan medium dan perspektif dari seniman generasi muda di Yogyakarta.
Terdiri atas delapan seniman individual, baik itu Salma Khoirunnisa, Desy Febrianti, Chandra Rosselinni, Ela Mutiara, Febri Anugerah, Ali Azca, Gabriela Fernandez, hingga Catur Agung Nugroho, telah terjaring dalam panggilan terbuka saat Februari 2022.
Tidak hanya itu saja, empat seniman kolektif, baik itu Puan Pualam, Bakar Tanah Lab, Sekawan Project, dan Kula Muda Project cukup beragam disiplinnya mulai dari lukis, patung, musik/bunyi hingga tari dan performans.
"Dinas Kebudayaan DIY melalui Taman Budaya Yogyakarta, menyambut baik dan memberikan apresiasi atas terselengaranya kegiatan itu untuk memberikan ruang dialog dan untuk memberikan ide peciptaan yang mampu menjembatani lahirnya ide kreatifitas, untuk memahami dunia dengan perspektif mereka," sambungnya.
Besar harapannya program tersebut akan melahirkan seniman yang peka terhadap keriuhan dari beragam konteks dengan pembacaan yang lebih tajam serta narasi yang lebih luas.
Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swastika, turut menyampaikan, proses persiapan tersebut sangat panjang.
"Jadi program Asana Bina Seni itu merupakan sebuah inisiatif untuk menjadi ruang belajar bersama bagi teman-teman seniman muda dan juga penulis dalam memperluas perspektifnya, memperluas praktik-praktiknya dan bertemu dengan cara pandang yang lebih lintas disiplin," tuturnya.
Pameran kali ini menjadi cukup istimewa, pasalnya pertama kali diadakan dengan format luring.
Sebab, pada tahun-tahun sebelumnya, kelas dan pameran dari program yang sama harus diadakan daring imbas dari Covid-19.
Titian dan Undakan adalah ungkapan untuk melihat bagaimana para seniman itu bekerja dalam relasi horizontal, saling menyambung dan membangun jembatan untuk mempertemukan narasi satu dengan lainnya.
Sementara Undakan menjadi metafor bagi bagaimana mereka juga perlahan melangkah untuk mewujudkan ide-ide penciptaan yang lebih kompleks dan bersama-sama menjejakkan langkah pada tangga-tangga kreatif sehingga mereka bisa menyerap lebih banyak hal lagi di masa depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Silang-Saling-Titian-dan-Udakan-di-Taman-Budaya-Yogyakarta.jpg)