Berita Sleman Hari Ini

Analisis Sosiolog UGM Terkait Bentrok Antarkelompok di Babarsari Sleman

Dari kacamata Sosoiologi, Arie Sujito melihat bentrokan antarkelompok di Babarsari lebih kepada problem ekonomi politik.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Petugas Kepolisian berjaga di jalan Seturan, Caturtunggal Depok Sleman, Senin (4/7/2022) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito, turut merespon insiden bentrokan antarkelompok di kawasan Babarsari, Depok, Sleman, beberapa waktu lalu.

Dari kacamata Sosoiologi, Arie Sujito melihat peristiwa itu lebih kepada problem ekonomi politik.

"Cuma memang mobilisasi lewat identitas itu paling mudah memicu keterlibatan banyak orang," kata Arie Sujito, saat dihubungi pada Rabu (6/7/2022).

Oleh karena itu, dirinya melihat dampak dari kasus ini memunculkan teror mental bagi masyarakat.

Indikasinya karena pada saat kejadian ricuh itu berlangsung terdapat video rekaman yang memperlihatkan sejumlah kelompok membawa parang dan senjata tajam lainnya.

"ini menciptakan teror mental buat masyarakat karena kejadian saling bentrok bawa pedang, lalu dishare videonya itu kan menciptakan kekhawatiran, beberapa masyarakat mengalami itu," ucapnya.

Atas dasar itu dia menegaskan, dalam jangka pendek sangat dibutuhkan langkah cepat dari perangkat aparat keamanan untuk menyelesaikan itu dengan pendekatan hukum satu sisi. 

Dia juga berpesan agar perselisihan antarkelompok itu jangan diseret pada isu antaretnis.

"Karena padahal sebenarnya akar masalahnya bukan tarung antas etnis. Ini antar orang atau kelompok, ya sudah penyelesaian di level pidana aja kalau emang masalahnya pada itu. Jangan sampai mengalami eskalasi atau perluasan jadi isu etnis. Dan itu bahaya," tegasnya.

Sebagai upaya pencegahan agar permasalahan itu tidak melebar pada isu etnis, Arie meminta para tokoh yang disegani pada masing-masing kelompok untuk dipertemukan.

"Entah Sultan atau para kepala daerah silakan memfasilitasi mereka. Agar tidak terjadi pergeseran isu personal ke ranah etnis," ucapnya.

Kemudian, Arie menekankan eksklusivitas asrama mahasiswa di wilayah DIY harus dihilangkan.

"Dibangun itu ikatan asrama dengan kampung. Jangan muncul eksklusifitas di asrama. Jangan ngeblok-ngeblok. Sehingga pada akhirnya solidaritas etnis itu untuk kepentingan positif," tegas Arie.

Dia juga meminta masing-masing bupati dan wali kota harus turun tangan memberikan pemahaman yang utuh kepada warga pendatang mengenai budaya luhur. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved