Berita Sleman Hari Ini

Melihat Proses Pembuatan Mini Gerabah Milik Ngadinem yang Melegenda di Seyegan Sleman

Ngadinem (67), warga Padukuhan Ngampon, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman tetap membuat gerabah menggunakan alat manual

Tribun Jogja/ Neti Istimewa Rukmana
Ngadinem (67), sedang membuat kendi kecil di Padukuhan Ngampon, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (26/6/2022) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Gerabah menjadi bagian dari perkakas yang dibuat dengan berbahan dasar utama tanah liat.

Namun, di era serba canggih saat ini, ternyata masih ada perajin gerabah yang menggunakan alat tradisional dalam proses pembuatannya.

Hal itu dilakukan salah salah satunya oleh seorang perajin gerabah yakni Ngadinem (67), warga Padukuhan Ngampon, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setiap hari ia duduk di kursi kayu yang menjadi tempat pembuatan gerabah miliknya.

"Saya sengaja pakai alat manual dan tidak bisa menggunakan mesin listrik. Karena kalau menggunakan mesin listrik itu terlalu cepat untuk memutarkan meja dalam proses pembentukan gerabahnya," kata Ngadinem, kepada awak media di tempat usahanya, Minggu (26/6/2022) sore.

Tentu proses pembentukan gerabah menjadi bagian yang penting.

Namun sebelum proses itu berlangsung, Ngadinem yang dibantu oleh sang suami bernama Ponidi (78), harus menggiling tanah liat terlebih dahulu agar proses pembentukan gerabah mudah dilalui. 

Setelah itu, proses pembentukan gerabah dimulai menggunakan perpaduan tanah liat, air, pemutar piringan tradisional dan senar. 

Dalam sehari, Ngadinem bisa membentuk empat macam gerabah, baik itu piring kecil, kendi kecil, tempayan kecil, anglo kecil, hingga tempat lilin kecil. 

Setelah proses pembentukan selesai, Ngadinem akan menjemur gerabah di luar rumah untuk mendapatkan terik matahari selama 12 jam.

Selanjutnya, masuk ke dalam proses pembakaran gerabah dengan durasi enam jam.

Proses pembakaran pun harus dilakukan saat gerabah dalam kondisi benar-benar kering dan layak untuk dipasarkan.

Nantinya, para pedagang gerabah baik itu di Wates, Tempel, Magelang, Borobudur, hingga Temanggung akan datang dan menjual karya gerabah milik Ngadinem.

Menurut penuturannya, sehari-hari Ngadinem bisa memproduksi 850 gerabah kecil alias mini gerabah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved