Pakar UGM: Peternak Perlu Diberi Kompensasi Jika Hewannya Terpapar PMK

Kejujuran itu bisa menghentikan PMK. Kalau tidak diberi kompensasi, bisa saja ternak mereka yang sakit, mereka jual. Mati karena PMK, dagingnya

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
Shutterstock
Ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penyakit Mulut dan Kuku ( PMK ) kini mulai mewabah di Indonesia, termasuk di DI Yogyakarta.

Ini menjadi salah satu momok menakutkan peternak lantaran hewan-hewan ternak mereka menjadi sumber pemasukan sehari-hari.

Apabila hewan ternaknya terjangkit PMK, tentu pendapatan mereka turun drastis dan sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menanggapi hal tersebut, Prof. drh. R. Wasito, M.Sc., Ph.D., Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada ( UGM ) mengatakan, kompensasi kepada peternak menjadi kunci penting agar PMK bisa terhenti.

Baca juga: Debut Solo Karir Maya Nilam Bakal Lepas Single Take Me Home

“Kompensasi ini nomor satu ya. Petani, peternak itu akan lebih kooperatif untuk memberitahu petugas kesehatan hewan bahwa ternaknya sakit,” ujarnya dalam Bincang Desa Apps UGM yang diakses Sabtu (11/6/2022).

Dia merinci, jika peternak kooperatif, maka mereka akan jujur mengatakan bahwa ternak terkena PMK kepada petugas kesehatan hewan yang ada di daerahnya.

“Kejujuran itu bisa menghentikan PMK. Kalau tidak diberi kompensasi, bisa saja ternak mereka yang sakit, mereka jual. Mati karena PMK, dagingnya dipotong dan dijual, karena mereka tidak ada kompensasi,” bebernya.

Menurut Wasito, kompensasi penting untuk membuat mereka sejahtera dan memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa dibayang-bayangi rasa takut hewan ternaknya tidak laku karena sakit.

“Di Inggris, penanganan PMK, wajib dipotong dan dimasukan ke insinerator untuk hewan yang sakit atau untuk hewan yang kontak dengan hewan yang sakit. Kemudian pemerintah memberi ganti rugi dana tanggap darurat,” terang Wasito.

Dilanjutkannya, virus ini memiliki waktu inkubasi dalam kurun waktu 2-14 hari. 

Baca juga: UPDATE Covid-19 DI Yogyakarta 11 Juni 2022: Tambahan 4 Kasus Baru, 1 Orang Dilaporkan Sembuh

Dalam beberapa kasus, tanda gejalanya sudah muncul dalam waktu kurang dari 24 jam setelah virus menginfeksi. 

Virus ini akan berkembang dalam jaringan faring, kulit, dan menyebar keseluruh tubuh melalui sirkulasi darah kemudian akan terbentuk lepuh pada faring.

“Gejala awal akut yaitu hipersalivasi (saliva berlebih), sapi tampak tidak bahagia, demam, dan nafsu makan menurun. Kalau gejala sudah kronik akan terbentuk lepuh, erosi, dan mengelupas,” ungkap Wasito. (Ard)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved