PMK Menyebar di 12 Kecamatan di Sleman, 3 Ternak Mati 

Penyakit Mulut dan Kuku ( PMK ) yang menyerang hewan ternak di Kabupaten Sleman saat ini telah menyebar di sejumlah Kapanewon.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Ahmad Syarifudin
Plt. Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Drh. Nawangwulan di Pendopo Parasamya, Kamis (9/6/2022) 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Penyakit Mulut dan Kuku ( PMK ) yang menyerang hewan ternak di Kabupaten Sleman saat ini telah menyebar di sejumlah Kapanewon.

Hingga tanggal 8 Juni pukul 14.00 siang, gambaran kasus PMK yang telah dilaporkan di Bumi Sembada berjumlah 908 ternak .

Dari jumlah tersebut, 882 ternak suspek dan 26 terkonfirmasi positif PMK melalui uji laboratorium. 

"Dari 908 kasus PMK itu, terdapat 8 ternak dinyatakan sembuh, 3 ternak mati, dan 897 dalam pengawasan dan pengobatan oleh petugas teknis kesehatan hewan atau sakit. Tidak ada yang dipotong paksa," kata Plt Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Drh Nawangwulan, Kamis (9/6/2022). 

Baca juga: Komentar Shin Tae-yong Setelah Timnas Indonesia Taklukkan Kuwait: Saya Tidak Menyangka Kami Menang

Sebaran kasus PMK telah terjadi di 12 Kecamatan di Sleman. Meliputi Moyudan, Gamping, Tempel, Mlati, 
Sleman, Ngaglik, Pakem, Ngemplak, Cangkringan, Berbah, Prambanan dan Kalasan.

Artinya, hanya tinggal lima kecamatan yang hingga kini belum ditemukan kasus PMK

Pemkab Sleman telah melakukan tracing atau investigasi di semua titik kejadian kasus.

Hasilnya, kata Nawangwulan, penyebab penyebaran PMK di Kabupaten Sleman, ditengarai berasal dari masuknya ternak, pedagang maupun alat angkut dari luar daerah.

Penyebab lain, ada juga pedagang dan alat angkut dari Kabupaten Sleman yang sempat mengunjungi pasar hewan atau lokasi lain di luar daerah dan sudah ada penularan lokal dalam wilayah di Kabupaten Sleman

"Karena sifat alami virus PMK yang bisa menyebar melalui udara dengan radius 10 kilometer," kata dia.  

Nawangwulan mengatakan, kasus PMK di Kabupaten Sleman jumlahnya relatif tinggi dibanding dengan Kabupaten/kota lain di DIY.

Karena ada kecepatan respon dan tracing (penelusuran) oleh para petugas teknis kesehatan hewan, terhadap kasus yang dilaporkan oleh pemilik ternak.

Apalagi, kecepatan respon juga didukung dengan ketersediaan sumber daya manusia dan Pusat Kesehatan Hewan yang ada.

Sejauh ini Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan terus berupaya menanggulangi wabah PMK di Sleman. Berbagai upaya telah dilakukan untuk melindungi populasi hewan ternak di Bumi Sembada.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved