Berita Pendidikan Hari Ini
Deteksi Dini Kanker Serviks, Dosen Polkesyo Kembangkan 'Teropong Digital'
Meski bisa mendeteksi, metode ini bukan untuk menentukan diagnosis penyakit.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Kanker serviks menjadi satu di antara penyakit yang dapat menyerang perempuan dari berbagai jenjang usia.
Kanker jenis ini menempati peringkat kedua sebagai jenis kanker yang paling banyak diderita perempuan Indonesia.
Meski termasuk jenis kanker yang mematikan, ternyata risikonya dapat dicegah dengan pemeriksaan secara terpersonalisasi sejak dini.
Hal ini didukung dengan adanya inovasi-inovasi dalam skrining kanker serviks yang berkualitas.
Baca juga: Sering Tidak Terdeteksi, Kenali Penyebab Kanker Serviks yang Harus Diwaspadai
Satu di antara inovasi skrining kanker serviks ialah Teropong Digital, yang dikembangkan oleh dosen berprestasi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Yogyakarta ( Polkesyo ), Nanik Setiyawati, S.ST., M.Kes.
Dosen Kebidanan Polkesyo ini menjelaskan, bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan skrining kanker serviks menggunakan metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat), yang bisa mendeteksi kelainan pada serviks sebelum kanker yang sesungguhnya tampak (lesi pra-kanker).
Meski bisa mendeteksi, metode ini bukan untuk menentukan diagnosis penyakit.
Teknik pemeriksaan IVA berupa pengolesan asam asetat 3-5 persen pada leher rahim dilanjutkan dengan inspeksi menggunakan mata untuk melihat adanya daerah abnormal.
Daerah abnormal berupa daerah berwarna putih dengan batas tegas (acetowhite) menandakan kemungkinan adanya lesi prakanker dari kanker serviks.
"Selama ini yang bidan kami lakukan yakni mengamati perubahan warna tersebut, dengan mata biasa. Dari beberapa literasi kami, kemudian ini menimbulkan subjektivitas hasil karena tergantung pada pengamatan masing-masing pengamat. Ketika terjadi hasil yang meragukan, maka kami (bidan) akan berkonsultasi pada dokter atau dengan tim yang lain," terang Nanik Setiyawati.
Dilatarbelakangi hal tersebut, muncul inovasi berupa 'Teropong Digital' yang memiliki kemampuan merekam gambar serviks.
Gambar yang terekam kemudian bisa terhubung dengan perangkat lainnya seperti gawai, laptop, maupun komputer.
"Sehingga akurasi dari hasil pengamatan akan bisa didigitalkan. Alat ini bisa membantu merekam gambar serviks yang bisa dilihat langsung melalui gawai sehingga tidak perlu bingung lagi ketika berkonsultasi dengan dokter karena sudah terkoneksi dengan gambar yang bisa ditangkap (direkam)," terangnya.
Adapun Teropong Digital ini terdiri dari sejumlah komponen.
Di antaranya ialah kamera dengan resolusi 720 pixel untuk menangkap gambar, kabel sebagai penghubung antar bagian alat, lampu led sebagai pencahayaan kamera, console yang berfungsi sebagai software mainboard teropong IVA digital, operating system, software, power dan data transfer sebagai sambungan internet untuk mengirimkan data dari tangkapan kamera ke perangkat.
Baca juga: Memahami Kanker Serviks : Gejala, Faktor Penyebab dan Cara Pencegahannya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Deteksi-Dini-Kanker-Serviks-Dosen-Polkesyo-Kembangkan-Teropong-Digital.jpg)