Pakar UGM Jelaskan Fenomena Suhu Dingin yang Terjadi di Yogyakarta Beberapa Hari Terakhir

Pakar Iklim Universitas Gadjah Mada ( UGM ), Dr Emilya Nurjani MSi mengatakan hawa dingin yang biasa disebut sebagai bediding dalam istilah Jawa

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
Shutterstock.com
Ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Udara di Yogyakarta, beberapa hari belakangan ini terasa dingin.

Bahkan, air-air yang keluar dari kran pun terasa mampu membuat tubuh menggigil.

Fenomena udara dingin tersebut dinilai sebagai kondisi menandai memasuki musim kemarau di beberapa wilayah di Indonesia.

Pakar Iklim Universitas Gadjah Mada ( UGM ), Dr Emilya Nurjani MSi mengatakan hawa dingin yang biasa disebut sebagai bediding dalam istilah Jawa merupakan fenomena suhu udara yang lebih dingin setelah tengah malam hingga pagi hari ketika memasuki musim kemarau.

Baca juga: Target Percepatan Penyertifikatan Tanah di Kabupaten Purworejo

“Fenomena ini memang sepertinya menandai masuknya musim kemarau di suatu wilayah," ujarnya, Selasa (31/5/2022).

Baginya, fenomena semacam ini sebagai fenomena alam iklim yang biasa terjadi pada saat musim kemarau.

Terutama untuk wilayah-wilayah yang mempunyai pola hujan monsunal yaitu wilayah yang puncak hujannya sekitar Desember-Februari dan mengalami musim kemarau sekitar bulan Agustus-September.

“Wilayah hujan monsunal meliputi Lampung, Sumatera, Selatan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara," katanya.

Ia menjelaskan fenomena ini terjadi di musim kemarau, pada saat kondisi langit cerah tanpa awan atau tanpa sedikit awan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved